KDT: Rumah Umat di Tepian Kumpeh

*Oleh Fajri Al Mughni

Ada satu pesantren yang pelan-pelan membangun sesuatu yang lebih mahal daripada gedung: yaitu membangun rasa memiliki di hati umat. Itulah yang hari ini kurasa di Pondok Pesantren Kumpeh Daaru Tauhid.

 

Pagi itu Kumpeh tak lagi sekadar dusun di tepi Batanghari. Ia menjelma macam halaman rumah besar. Orang datang berduyun-duyun. Tua, muda, emak-emak menggendong bayi, bapak-bapak menuntun anak, sampai budak-budak yang wajahnya masih menyimpan takut hendak disunat. Semuanya datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga.

 

Hari ini, 25 Agustus 2026, Kumpeh Daaru Tauhid menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tapi maulid di sini bukan hanya dibaca dalam kitab, bukan sekadar dilantunkan dalam syair dan selawat. Sejarah Rasulullah seakan turun dari mimbar, lalu berjalan di tengah manusia.

Jangan Lewatkan :  Polemik Jelang Terbentuknya Provinsi Jambi dan Masa Awal Berdiri

 

Di sebelah tempat pembacaan maulid, terdengar tangis kecil anak-anak yang disunat. Di sudut lain, doa-doa dipanjatkan untuk bayi-bayi yang baru lahir dalam tasyakuran kelahiran. Ada meja pemeriksaan kesehatan, tempat orang kampung mengulurkan tangan untuk dicek tekanan darah dan kesehatannya. Ada ibu-ibu hamil yang tersenyum haru melihat bayinya lewat layar USG. Ada pula anak-anak membuka mulut lebar-lebar diperiksa giginya.

 

Semuanya gratis.

 

Mungkin inilah cara paling indah mengenang Nabi. Sebab Rasulullah tak hanya mengajarkan manusia membaca langit, tetapi juga mengusap luka di bumi. Tak hanya mengajarkan selawat, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi sesama.

Jangan Lewatkan :  Ada #SeAbadPram untuk Peringati Sabad Pramoedya Ananta Toer

Ribuan jamaah memenuhi pesantren hari itu. Ribuan pula yang memeriksa kesehatan dan berobat. Ratusan anak disunat. Ratusan bayi didoakan agar kelak menjadi penyejuk mata orang tuanya. Angka-angka itu memang besar, tetapi yang lebih besar adalah rasa haru yang berdiam di dada.

 

Aku berdiri memandang wajah-wajah itu. Wajah orang kampung yang datang tanpa canggung, seolah mereka sedang pulang ke rumah sendiri. Dan memang begitulah adanya. Kumpeh Daaru Tauhid benar-benar telah menjadi rumah bagi umat. Rumah tempat orang datang membawa sakit lalu pulang membawa harapan. Rumah tempat doa dan ikhtiar duduk bersanding tanpa saling mendahului.

Jangan Lewatkan :  Dewi Soekarno, Istri Keenam Bung Karno yang Melepas Status WNI

 

Di balik semua itu, ada amanah yang sedang dipikul dengan sunyi. Tuan Guru Sholahuddin tidak sedang membangun kemegahan, melainkan menjalankan titipan umat. Amanah itu hidup dalam pelayanan, tumbuh dalam kepedulian, dan berbuah dalam keberkahan yang dirasakan masyarakat.

 

Melayu Jambi punya satu petuah lama: rumah yang baik bukan yang tinggi bubungnya, tapi yang lapang pintunya. Hari ini aku melihat petuah itu hidup di Kumpeh Daaru Tauhid. Pintunya terbuka untuk siapa saja, dan di dalamnya, umat menemukan rumahnya.(penulis santri alumnus Mesir, pendiri KalamLiterasiIndonesia)

Tinggalkan Balasan