Oleh: Fajri Al Mughni
Ada sebuah percakapan lama yang hari ini terasa seperti barang antik: dua ulama besar saling berkirim surat dengan adab. Bukan dengan makian, bukan dengan meme, bukan pula dengan potongan video 30 detik yang diberi musik dramatis.
Percakapan itu terjadi antara Salim al-Bishri, Rektor Al-Azhar University pada masanya, dengan seorang ulama besar Syiah dari Lebanon, Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. Menariknya, isi surat mereka tidak muter-muter.
Hanya dua hal saja.
Pertama: tentang kepemimpinan mazhab dalam aqidah dan syariat.
Kedua: tentang siapa yang paling pantas menggantikan Rasulullah dalam kepemimpinan umat.
Lihat cara mereka memulai dialog. Syaikh Salim membuka suratnya dengan sopan, tanpa urat leher menegang, tanpa gaya debat televisi. “Wahai Syaikh Syarafuddin, izinkan aku bertanya dua hal. Semoga engkau berkenan berdialog.”
Begitu saja.
Sederhana. Tenang. Tidak ada ancaman, tidak ada label sesat di paragraf pertama.
Lalu Syaikh Salim bertanya:
“Wahai Syaikh, mengapa kalian kaum Syiah tidak berpegang pada mazhab jumhur kaum muslimin dalam aqidah dan hukum syariat?”
Pertanyaan serius. Tapi diajukan dengan hormat. Dan jawaban Syaikh Syarafuddin juga tidak kalah elegan.
Beliau menulis kira-kira begini:
“Duhai Syaikh Salim, jangan engkau duga kami fanatik buta atau hendak memisahkan diri. Kami sama sekali tidak meragukan keilmuan para imam mazhab yang masyhur. Mereka orang-orang saleh, jujur, bersih jiwanya, dan tinggi ilmunya.”
Perhatikan kalimat itu.
Dia sedang berbeda pendapat.
Tapi dia tidak merendahkan lawannya.
Lalu ia melanjutkan dengan tenang:
“Kami berpegang pada mazhab Ahlul Bait karena dalil-dalil syariat menurut keyakinan kami mengarah ke sana. Keluarga Rasulullah adalah pusat nubuwwah, tempat singgah malaikat, dan rumah turunnya Al-Qur’an. Maka dari sanalah kami belajar aqidah dan syariat.”
Jawaban yang tegas.
Tapi tidak kasar.
Syaikh Salim menjawab lagi surat itu. Coba lihat wak!
“Telah ku terima surat jawabanmu yang amat berharga ini. padatm berisi, menarik, indah disertakan argumen yang kuat”.
“Namun ku rasa, jawabanmu masih kurang rinci duhai Syaikh. Sudikah kiranya engkau menunjukkan dalil-dalil yang lain yang lebih menguatkan lagi”.
Ah indah kan wak? aku lanjut saja ke pertanyaan kedua ya?
Kemudian pertanyaan kedua: tentang pengganti Rasulullah. Syaikh Syarafuddin menjawab dengan argumentasi sejarah.
“Bukankah engkau mengetahui riwayat kehidupan Rasulullah ketika membangun negara Islam? Ketika hukum-hukum disusun, ketika asas-asas pemerintahan ditegakkan?”
“Bukankah pada masa itu Ali ibn Abi Talib adalah wazirnya? Pembantu utamanya?”
“Maka menurut keyakinan kami, Ali sangat pantas menjadi pengganti Rasulullah.”
Begitulah.
Tidak ada kata “bodoh”.
Tidak ada kalimat “kafir”.
Tidak ada juga gaya komentar media sosial yang biasanya dimulai dengan: “Lu baca dulu sejarah, bro.”
Ini baru surat-surat awal.
Di tanganku sekarang ada hampir 600 halaman korespondensi mereka. Surat yang kemudian dikenal luas lewat karya Al-Muraja’at.
Dulu sekali aku pernah membacanya.
Dan sekarang, ketika banyak orang menilai dunia Islam hanya lewat potongan video TikTok atau debat kolom komentar FB, aku malah ingin kembali membuka halaman-halaman itu.
Di bagian penutup surat-surat mereka, dua ulama besar itu saling memuji. Bukan basa-basi kosong, tapi penghormatan tulus kepada lawan dialognya.
Terus terang, Wak, aku agak malu membacanya. Bukan karena isinya terlalu rumit. Tapi karena kebesaran jiwa mereka terlalu tinggi untuk kita kejar.
Hari ini orang berbeda mazhab sedikit saja langsung berubah menjadi komentator perang. Padahal dua ulama ini berbeda aqidah dan politik sejarah, dua hal paling sensitif dalam dunia Islam, namun mereka tetap berdialog dengan kepala dingin.
Kadang aku merasa beberapa orang yang paling keras berteriak soal aqidah justru belum pernah membaca diskusi aqidah yang serius. Misalnya saja ketika ada yang dengan enteng menilai geopolitik Timur Tengah seolah-olah itu pertandingan sepak bola.
Seakan-akan Iran itu sama dengan Iraq, atau Qatar, atau Kuwait, atau bahkan Saudi Arabia.
Bukan begitu ceritanya.
Iran itu Persia.
Peradaban tua yang panjang.
Kombinasi antara tradisi intelektual, teknologi modern, dan semangat keagamaan di sana membentuk karakter politik yang berbeda dari banyak negara lain di kawasan itu.
Memahami itu butuh membaca sejarah. Bukan sekadar membaca caption.
Aku kadang menduga beberapa komentator kita mengira Timur Tengah itu seperti peta paket wisata: semua negara dianggap sama, semua konflik dianggap sederhana. Padahal satu bab saja dari surat-surat dua ulama tadi sudah cukup membuat kita sadar: perbedaan itu bisa dibicarakan tanpa kebencian.
Ingin rasanya aku menuliskan seluruh isi surat-surat itu di sini. Tapi aku ragu halaman media ini cukup untuk menampungnya. Lagipula, percakapan serius seperti itu rasanya lebih cocok dibaca perlahan, bukan sambil scroll cepat.
Kalau engkau masih penasaran, Wak, mungkin suatu malam kita bisa ngopi pelan-pelan.
Membuka halaman-halaman tua itu, sambil menunggu datangnya Lailatul Qadr. (*)
*Fajri Al Mughni, alumnus Mesir, pendiri Kalam Literasi Indonesia













