Oleh: Fajri Al Mughni
Lebaran sudah dekat. Di sebagian tempat, orang sibuk menakar gula untuk kue kering.
Di tempat lain, orang sibuk menakar bahan peledak. Iran, misalnya.
Negeri para penyair dan para teolog itu tampaknya sedang gemar bermain kembang api ukuran gigantis, jenis yang tidak hanya menerangi langit, tetapi juga membuat jantung rakyat Israel berdetak seperti bedug sahur yang dipukul terlalu semangat.
Amerika?
Ah, Amerika selalu punya kursi terbaik untuk menonton pertunjukan.
Ia duduk santai di tribun sejarah, memegang popcorn geopolitik, dan sesekali tersenyum melihat dunia yang kacau seperti taman bermain yang terlalu lama dibiarkan tanpa penjaga.
Sementara itu, rakyat Palestina tetap seperti biasa: memprihatinkan di mata dunia.
Rumah mereka runtuh, masa depan mereka digantung seperti lampu yang tak pernah diganti.
Namun bagi mereka, surga terasa dekat, terlalu dekat bahkan, seolah tiket menuju ke sana tidak perlu antre panjang seperti visa ke negara maju.
Di sisi lain dunia Arab, ada perlombaan yang agak aneh: siapa paling cepat menjadi Amerika versi lokal.
Gedung tinggi, lampu neon, konser megah, pusat belanja yang lebih besar dari perpustakaan.
Kebebasan dipajang seperti parfum mahal, disemprotkan ke segala arah agar dunia mencium aroma modernitas.
Dan orang-orang bertepuk tangan, bangga sekali melihat negeri mereka berubah menjadi Las Vegas yang kebetulan punya masjid.
Cina tidak ikut keributan itu.
Ia tidak suka panggung yang terlalu terang. Ia bekerja diam-diam seperti tukang jam yang sabar menyusun roda-roda kecil sejarah. Targetnya sederhana: puncak kejayaan.
Korea juga bergerak Dulu orang mengenalnya lewat drama dan musik, sekarang ia sedang menulis bab lain: kedigdayaan global yang dibangun dari chip semikonduktor, bukan dari puisi cinta.
Rusia? Rusia selalu tampak tenang.
Seperti sungai yang mengalir pelan di musim dingin.
Namun semua orang tahu: di bawah permukaan yang beku itu, ada arus besar yang sedang menunggu saat tepat untuk membuat dunia kembali mengingat kata takut. Dan terhenyak!
Afganistan sibuk dengan dirinya sendiri.
Sejak tak lagi menjadi bayangan Persia, negeri itu seperti rumah tua yang terus memperbaiki atapnya yang bocor sementara hujan tak kunjung berhenti.
India lain lagi.
Ia tetap fokus mengajarkan generasinya menari. Bollywood adalah universitas kebanggaan nasional.
Mungkin suatu hari mereka akan menemukan pengganti Shah Rukh Khan, karena bagi India, dunia selalu lebih indah jika diselesaikan dengan tarian lima menit di tengah konflik.
Turki selalu punya gaya sendiri.
Ia jual mahal seperti pedagang karpet di bazar tua. Inflasi baginya hanyalah bunga yang sedang mekar, sebentar lagi layu, lalu tumbuh lagi dengan warna baru.
Begitulah cara mereka menenangkan diri sambil menunggu ekonomi kembali sopan.
Arab Saudi bahkan lebih ambisius.
Tahun 2030 disambut seperti kelahiran sebuah kota baru: Los Angeles yang kebetulan berdiri di padang pasir.
Orang Amerika memang tidak boleh masuk ke tanah haram.
Tapi anehnya, setiap sudut kota terasa seperti Amerika yang sedang menyamar.
Lalu kita sampai ke Indonesia.
Negeri ini unik.
Pejabat dan rakyat sama-sama sibuk bermain kucing-kucingan: antara idealisme dan kepentingan, antara pidato dan kenyataan.
Bagi Indonesia, Amerika bukan ancaman.
Cina adalah rekanan.
Rusia sahabat lama.
Turki kawan ngopi.
Iran?
Ah, itu Syiah, maka cukup dibenci saja.
Sederhana. Dunia terasa lebih mudah jika disederhanakan seperti milih makan nasi langsung atau takjil dulu.
Irak dengan Baghdadnya tinggal cerita.
Seperti buku tua One Thousand and One Nights yang dibaca sebelum tidur.
Dulu ia pusat peradaban.
Sekarang lebih sering menjadi catatan kaki dalam berita perang.
Kadang aku berpikir: andaikan Jalaluddin Rumi masih hidup, mungkin ia akan menenangkan dunia dengan puisi.
Andaikan Abu Nawas masih berjalan di pasar Baghdad, mungkin ia akan menertawakan para pemimpin dengan kecerdasan yang halus.
Keduanya mungkin bisa menghibur penghuni bumi yang terlalu serius memainkan kekuasaan.
Namun satu orang yang tidak kuharapkan kembali adalah Qais si Majnun.
Karena aku khawatir, ika ia hidup lagi hari ini, ia akan melihat dunia…lalu menyadari bahwa dirinya bukan lagi orang paling gila di bumi. (*)
*Pendiri Kalam Literasi Indonesia











