Harga Sawit Runtuh, Siapa Yang Peduli Nasib Petani?

Oleh: Rifaldoh*

Sudah mau dua pekan, sebuah bencana baru saja mengguncang Jambi. Dua minggu ini yang roboh bukan gedung, tapi bangunan ekonomi rumah tangga masyarakat. Sebabnya? Bukan gempa, bukan banjir, tidak juga kemarau panjang. Bukan, bukan itu.

Yang satu ini bencana, tapi bukan dari alam, bukan juga teguran Tuhan. Bencana satu ini by design, ada telunjuk yang bermain. Bencana ini berasal dari meja cukong-cukong yang berorkestrasi dengan harga buah ajaib, buah kelapa sawit, tempat kebanyakan rakyat Jambi menggantungkan hidup.

Pagi yang cerah di tanggal 21 Mei yang lalu, tepat di Hari Kebangkitan Nasional. Bukannya bangkit, harga buah sawit malah tersungkur ke angka yang membuat semua kuduk petani membungkuk. Betapa tidak, setelah sekian lama harga tandan buah segar (TBS) selalu stabil di angka Rp.3.500-Rp.3.800, tiba-tiba hari itu petani kecil yang biasanya membawa keranjang sawit ke pengepul harus menanggung kecewa yang amat karena sawitnya tak lagi dibeli dengan harga biasa; di tingkat pengepul buah sawit hanya dihargai Rp.2.500 bahkan ada yang menyentuh harga Rp.1.900 per kg. Tak main-main, anjlok hingga lebih dari Rp.1.000. Bagi petani, seribu itu bila dikalikan sepikul-dua, bisa membeli sekarung beras dan minyak sayur untuk seminggu.

Jangan Lewatkan :  Budi Setiawan Raih Gelar Doktor, Sukses Pertahankan Disertasi

Untung tak dapat diraih, rugi tak dapat dielak. Apalah daya bagi rakyat kecil selain mengeluh jua akhirnya. Namun seperti keadaan kaum papa jamaknya, ke mana rakyat kecil hendak mengadu? Kepada siapa semua ini harus dipersoalkan? Sedang para pengepul di tingkat bawah sudah tak kuasa lagi menjawab serangan pertanyaan dari para petani, “Apa pasal tiba-tiba harga anjlok, Bos?” Cuma bisa dijawab lesu, “Kami cuma ikut harga yang di atas, Bang.”

Tutup buku, habis perkara. Rakyat bingung, petani pesimis. Mereka hanya bisa membawa rasa penasaran dan tanda tanya. “Akankah harga sawit akan kembali ke angka semula?”. Tanda tanya yang hanya mampu dibawa dalam obrolan warung kopi dan diskusi senggang sepulang dari kebun.

Jangan Lewatkan :  Pemkot Jambi Bersiap Wujudkan TPA Talang Gulo Menjadi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik

Kendati demikian, mesti diakui, sayup-sayup harapan akan munculnya orang yang bisa membawa kegelisahan ini ke ranah praktis itu tetap ada. Namun pertanyaannya, sampai kapan dan siapa gerangan orang yang bisa menjadi katalisator isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak ini?

Sarwan Abdul Ghani. Lagi-lagi Bang Sarwan. Putra daerah Sarolangun yang saat ini duduk sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jambi rupanya telah menangkap kegelisahan kolektif ini. Di tengah-tengah riuh kabar harga sawit yang terus merosot, Bang Sarwan muncul ke permukaan, menjelaskan duduk perkaranya pada masyarakat. Tak sampai di situ, ia menyadari betul tugas dan perannya sebagai anggota dewan. Bang Sarwan mengimbau dan menuntut pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan.

Yang masyarakat tak tahu, Dinas Perkebunan rupanya sudah menetapkan harga TBS harus berada di kisaran angka Rp.3.500-Rp.3.800 (harga TBS umur 10-20 tahun periode 22-28 Mei). Namun pada faktanya, di level petani desa, TBS hanya dihargai Rp.2.500-R-.2.800—bahkan kurang.

Jangan Lewatkan :  4.386 Rumah di Bungo Terendam Banjir, Status Tanggap Darurat

Menimbang kondisi yang demikian, Bang Sarwan meminta Gubernur, Kapolda, Danrem dan semua pihak terkait untuk mengawal dan menindak perusahaan-perusahaan nakal yang telah merugikan masyarakat dengan membeli TBS dengan harga jauh di bawah ketetapan pemerintah. Tak sampai di situ, ia juga menyerukan anggota DPRD Provinsi Jambi untuk membuat regulasi (Perda) tentang ketetapan harga sawit serta menghukum pihak-pihak yang sengaja bertindak curang lagi culas.

Tegakkan keadilan, patuhi aturan. Sila ke-5 Pancasila kita masih berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Mari kita tunggu hasilnya beberapa waktu ke depan. Rakyat berhak tahu, masyarakat berhak menuntut penegakkan regulasi. 12 kabupaten/kota, 144 kecamatan, 169 kelurahan dan 1.399 desa di wilayah Provinsi Jambi menunggu dan menanti harga sawit kembali ke angka yang semestinya.

*Alumnus Universitas Al Azhar, Mesir

Tinggalkan Balasan