Pondok Pesantren, Lembaga Paling Depan Dalam Menjaga Marwah Bangsa

Oleh: Fajri Al Mughni

Di tengah zaman yang serba “viral”, ketika ukuran kehormatan bisa ditentukan oleh jumlah like dan joget yang sinkron, tiba-tiba ada kabar yang terasa… asing.

Bukan karena aneh, tapi karena terlalu waras untuk ukuran hari ini. Hari ini, 18 April 2026, Pesantren Kumpeh Daaru Attauhid (KDT) menjadi tuan rumah halal bi halal, silaturahmi pimpinan pondok pesantren, sekaligus sosialisasi persatuan pondok pesantren Jambi.

KDT bukan hanya tuan rumah, tapi Tuan Guru Sholahuddin Syargawi juga menggagas forum persatuan Pondok Pesantren Jambi ini.

Sebuah kegiatan yang, bagi sebagian orang modern yang terlalu sibuk mengejar tren, mungkin terdengar tidak “wah”.

Tidak ada panggung gemerlap, tidak ada seleb TikTok, tidak ada konten yang bisa dipotong 15 detik lalu jadi bahan joget.

Tapi justru di situlah masalahnya.

Kita hidup di zaman ketika sesuatu dianggap penting kalau berisik. Semakin gaduh, semakin dianggap berharga. Maka jangan heran kalau pesantren, yang bekerja dalam diam, membangun akhlak tanpa filter, mendidik tanpa gimmick, sering dipandang sebelah mata.

Bahkan oleh mereka yang merasa dirinya “orang besar”. Besar dari mana, itu yang masih jadi teka-teki.

Mungkin besar egonya, bukan ilmunya. Padahal kalau mau jujur, pesantren adalah satu-satunya lembaga yang masih berdiri tegak ketika yang lain sibuk bernegosiasi dengan kepentingan.

Ia tidak ikut lomba menjadi paling modern, tapi tetap konsisten menjadi paling mendasar: menjaga manusia tetap menjadi manusia.

Dulu, Jambi punya raja. Tempat rakyat menggantungkan harap, tempat moral dijaga dengan wibawa.

Sekarang raja sudah tinggal cerita. Yang tersisa bukan singgasana, tapi tanggung jawabnya.

Dan anehnya, tanggung jawab itu tidak diambil oleh mereka yang paling lantang bicara di podium, tapi oleh para tuan guru di pesantren, yang bahkan, kadang mikrofon di lembaganya harus dibanting dulu baru hidup.

Ironis memang. Yang seharusnya merasa terbebani justru santai, yang tak pernah diminta justru memikul.

Kegiatan ini pun bukan sekadar ramai-ramai biasa. Lebih dari 40 pimpinan pondok pesantren hadir, duduk bersama, menyatukan pikiran dan niat.

Bukan untuk saling menunjukkan siapa paling besar, tapi justru untuk memastikan tidak ada yang berjalan sendiri.

Di saat banyak forum hanya jadi ajang formalitas dan foto bersama, pertemuan ini justru mencoba menghidupkan kembali makna kebersamaan yang sesungguhnya.

Maka kegiatan di Pesantren Kumpeh Daaru Attauhid ini bukan sekadar halal bi halal. Ini bukan sekadar kumpul-kumpul sambil berjabat tangan dan saling maaf.

Ini adalah upaya merajut sesuatu yang nyaris putus: persatuan, arah, dan kesadaran bahwa pendidikan bukan cuma soal pintar, tapi juga soal benar.

Dan di tengah dunia yang makin bising ini, mereka memilih untuk tetap waras.

Barangkali itulah yang paling revolusioner hari ini: menjadi sederhana, tapi tidak kehilangan makna.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

 

*Fajri Al Mughni, alumnus Mesir dan pendiri Kalam Literasi Indonesia

Jangan Lewatkan :  Ketika Sunni Menyurati Syiah

Tinggalkan Balasan