Wasit, Sang Bajak Laut Merampok Kapal Mesir

Aku menonton pertandingan Argentina vs Mesir tadi malam, kawan. Bukan menonton sambil lalu, bukan pula menonton sekadar lewat di layar. Aku begadang sampai mata terasa seperti pasir di tepi Sungai Batanghari. Kopi sudah dingin, badan sudah minta rebah, tapi hati masih tegak menunggu peluit akhir.

Sebab yang bermain malam itu bukan sekadar dua kesebelasan. Yang bertanding adalah Mesir melawan Argentina, tetapi yang terasa di dada: Mesir melawan nasib.

Argentina datang seperti armada besar. Kapalnya megah, layarnya tinggi, bintangnya banyak, namanya harum sampai ke hujung dunia. Messi dan kawan-kawan menggempur seperti badai tujuh hari tujuh malam. Bola mereka gulirkan dari kiri ke kanan, dari kanan ke tengah, dari tengah kembali ke depan. Seolah-olah lapangan itu milik mereka, dan Mesir hanya penyewa kecil yang diminta cepat-cepat angkat kaki.

Tapi Mesir, aduhai Mesir, tidak runtuh.

Mereka berdiri seperti benteng tua di padang pasir. Dipukul angin, diterjang panas, dihantam gelombang serangan, tapi tidak roboh. Pemain-pemain Mesir itu berlari bukan hanya dengan kaki, tetapi dengan marwah. Mereka bertahan bukan semata-mata menjaga gawang, tetapi menjaga harga diri.

Argentina menggempur.
Mesir menunggu.
Argentina menekan.
Mesir menyergap.

Dan ketika kesempatan datang, Mesir menusuk seperti belati kecil yang diselipkan di balik jubah. Serangan balik mereka mematikan. Tiga gol bersarang di gawang kiper paling slengek’an di dunia. Kiper yang kalau menang tampak seperti pahlawan sandiwara, kalau disorot kamera gayanya seolah baru saja menyelamatkan peradaban manusia.

Jangan Lewatkan :  Ini Kondisi Timnas Indonesia Jelang Hadapi Australia

Tiga gol, kawan.
Tiga.

Tapi begitulah dunia sepak bola modern. Gol tidak cukup hanya masuk ke gawang. Ia harus lebih dulu mendapat restu dari para penjaga takdir di ruang VAR.

Satu gol Mesir dianggap tidak sah. Katanya Martinez dilanggar. Katanya ada gangguan. Katanya ada sentuhan. Katanya ada perkara yang hanya bisa dilihat oleh mata-mata suci di layar ulang.

Maka aku duduk termenung.
Aku lihat ulang.
Aku tarik napas.
Aku geleng kepala.

Lalu aku simpulkan dengan tenang, setenang orang Melayu menahan marah di depan tamu:

Haram hukumnya Argentina kalah.

Dalilnya mana?
Dalilnya VAR.

Dalam kitab baru sepak bola dunia, tampaknya sudah tertulis: bila Argentina terdesak, bukalah pintu tafsir. Bila Argentina kebobolan, carilah sebab. Bila lawan mencetak gol, periksalah dari segala sudut. Bila perlu, lihat sampai ke niat leluhurnya.

Tetapi bila pemain Mesir yang dilanggar?
Ah, itu hanya angin lalu.
Bila pemain Mesir jatuh?
Itu bagian dari seni bertahan.
Bila kaki pemain Mesir disapu?
Itu mungkin silaturahmi antarbetis.
Bila bahu, pinggang, dan harapannya dihantam?
Itu namanya dinamika pertandingan.

Begitulah VAR malam itu.
Matanya tajam ketika melihat Argentina tersentuh.
Tapi rabun ketika melihat Mesir tersungkur.

Wasit malam itu bukan pengadil, kawan.
Ia seperti bajak laut di tengah samudra. Ketika kapal Mesir mulai berlayar gagah, ketika layar mereka mengembang dan angin kemenangan mulai bertiup, sang bajak laut datang membawa peluit, bukan pedang. Ia tidak merampok emas, tidak mencuri rempah, tidak menjarah peti harta.

Jangan Lewatkan :  Timnas U17 Satu Grup dengan Brasil, Ini Hasil Drawing Piala Dunia U17

Ia merampok gol.
Ia merampok momentum.
Ia merampok sejarah kecil yang seharusnya boleh dirayakan oleh mereka yang tidak diunggulkan.

Dan yang paling pedih, perampokan itu dilakukan terang-terangan, di bawah lampu stadion, disaksikan jutaan mata, lalu diberi nama indah: keputusan teknologi.

Aduhai, zaman memang sudah maju.
Dulu ketidakadilan datang dengan wajah kasar. Sekarang ia datang dengan layar besar, garis-garis digital, dan bahasa resmi yang terdengar suci.

Aku tidak menutup mata.
Aku akui, kualitas Argentina memang di atas Mesir. Mereka lebih matang, lebih berkelas, lebih punya nama, lebih terbiasa hidup dalam sorotan dunia. Bola mereka lebih tenang, gerak mereka lebih rapi, pengalaman mereka lebih panjang.

Tapi sepak bola bukan hanya soal siapa yang lebih terkenal.
Sepak bola juga soal siapa yang lebih tajam pada malam itu.
Siapa yang lebih berani mengambil kesempatan.
Siapa yang sanggup bertahan saat dihantam badai.
Siapa yang mampu berdiri walau dunia berharap ia jatuh.

Dan tadi malam, seharusnya Argentina tumbang.

Tumbang bukan karena mereka buruk.
Tumbang karena Mesir lebih efektif.
Tumbang karena Mesir lebih lapar.
Tumbang karena bola, untuk beberapa saat, telah memilih berpihak kepada mereka yang berlari dengan dada penuh bara.

Tetapi rupanya, dalam sepak bola, bola boleh masuk ke gawang, namun belum tentu masuk ke sejarah.
Sebab di pintu sejarah ada wasit.
Di belakang wasit ada VAR.
Di belakang VAR ada tafsir.
Dan di belakang tafsir itu, entah siapa yang sedang tersenyum.

Jangan Lewatkan :  Real Madrid dan Manchester City Terancam Terdepak dari Liga Champions

Malam itu, Mesir tidak sekadar melawan Argentina.
Mesir melawan nama besar.
Mesir melawan narasi.
Mesir melawan takdir yang seolah sudah disiapkan sebelum peluit pertama dibunyikan.

Maka ketika peluit akhir terdengar, aku tidak marah seperti orang kehilangan taruhan. Aku marah seperti orang melihat perahu kecil dirampas haknya di tengah sungai. Aku marah seperti orang Melayu melihat marwah diinjak, lalu disuruh tersenyum atas nama sportivitas.

Sepak bola boleh kalah menang.
Tapi keadilan jangan pura-pura buta hanya ketika yang jatuh bukan anak emas.

Argentina mungkin selamat malam itu.
Martinez mungkin boleh kembali berlagak di depan kamera.
VAR mungkin boleh merasa telah menjalankan tugasnya.

Tapi di hati penonton yang masih punya nurani, Mesir telah menang dengan cara yang lebih sunyi:
mereka membuat raksasa ketakutan, membuat juara dunia berkeringat, dan membuat wasit harus turun tangan untuk menyelamatkan kapal besar dari karam.

Dan aku, kawan, sebagai penonton yang begadang sampai peluit terakhir, hanya bisa berkata:

Mesir kalah di papan skor, tetapi tidak kalah di mata orang-orang yang menonton dengan hati.
Sebab tadi malam, sang bajak laut boleh merampok kapal Mesir, tetapi ia tidak berhasil merampas marwahnya. (Fajri Al Mughni, pendiri Kalam Literasi Indonesia)

Tinggalkan Balasan