HBA dan Suhairy Layin, Sang Penguat Batang Menjulang

Oleh: Fajri Al Mughni

Di tanah Pilih Pusako Betuah, negeri yang tegak karena adat dan kuat karena petuah, nama Suhairy Layin atau Wo Heri mungkin tidak selalu disebut di barisan paling depan.

Namun bagi masyarakat Jambi, khususnya mereka yang mengenal perjalanan panjang Hasan Basri Agus, sosok yang akrab dipanggil Wo Heri itu ibarat akar kayu di tebing Batang Asai, tidak terlihat di permukaan, tetapi diam-diam menahan batang besar agar tetap tegak berdiri.

Orang Melayu bilang: “Kayu gedang tegak dek akar, rumah kokoh tegak dek sandi.”

Begitulah Wo Heri. Ia bukan orang yang sibuk mencari tepuk tangan. Ia memilih menjadi penguat di belakang layar, menjadi sandaran dalam perjalanan panjang seorang pemimpin.

Publik Jambi mengenalnya sebagai orang dekat HBA, Hasan Basri Agus, tokoh yang pernah menjabat Sekda Kota Jambi, Gubernur Jambi, hingga kini menjadi Anggota DPR RI dua periode.

Namun kisah Wo Heri bukanlah kisah tentang kemewahan jabatan ataupun gemerlap kuasa. Kisahnya bermula dari dusun yang tenang di Kasiro, Batang Asai, Sarolangun.

Dari tanah yang dingin diselimuti kabut pagi itulah Wo Heri tumbuh. Seperti anak Melayu kebanyakan, ia dibesarkan oleh kehidupan yang mengajarkan kesederhanaan dan keteguhan hati.

Jangan Lewatkan :  Menang Lawan Thailand di Kandang, Vietnam Patahkan Memori 27 Tahun Silam

 

Sebab orang tua dahulu selalu berpesan: “Orang beradat tahu merendah, macam padi masak di laman.”

Tahun 1996, Wo Heri dikenal sebagai wartawan koran lokal di Jambi. Dunia jurnalistik membentuk matanya menjadi tajam membaca keadaan, tetapi tetap lembut memahami manusia.

Dari lorong-lorong berita, dari meja kopi hingga halaman kantor pemerintahan, ia belajar bahwa hidup bukan sekadar soal bicara, melainkan juga soal mendengar.

Barangkali sebab itulah pembawaannya selalu terasa hangat. Tutur katanya sederhana, tawanya ringan dan sapanya tidak pernah berjarak. Ia mudah akrab dengan siapa saja, seolah setiap orang adalah keluarga yang pantas dihormati.

Takdir kemudian mempertemukannya dengan Hasan Basri Agus. Saat HBA masih menjabat Sekda Kota Jambi, Wo Heri mulai mendampingi. Sejak saat itu, perjalanan mereka seperti air Batang Asai: tenang namun deras mengalir serta panjang menempuh muara.

Ketika HBA melangkah menuju perjalanan yang lebih tinggi, Wo Heri tetap berada di sisi perjalanan itu. Dari satu masa ke masa lain, kesetiaannya tidak berubah. Saat HBA dipercaya menjadi Gubernur Jambi, Wo Heri ikut mendampingi di bagian staf rumah tangga.

Tetapi sesungguhnya, tugas Wo Heri bukan sekadar mengurus keseharian. Ia menjadi bagian dari denyut kehidupan seorang pemimpin. Ia tahu kapan harus hadir tanpa dipanggil, kapan harus diam tanpa diminta dan kapan harus menjadi peneduh di tengah letihnya perjalanan panjang kekuasaan.

Jangan Lewatkan :  Tantangan Rp300 Ribu Berujung Nyawa Melayang, Jamu Dicampur Potas

Dalam adat Melayu, ada seloko yang berbunyi: “Berjalan seiring, melangkah seayun; berat samo dipikul, ringan samo dijinjing.”

Mungkin itulah yang hidup dalam diri Wo Heri selama puluhan tahun mendampingi HBA. Kesetiaan yang tidak dibangun oleh kepentingan, melainkan oleh ketulusan.

Kini waktu telah berganti. Jabatan gubernur telah lama ditinggalkan. Namun Wo Heri tetap berada di sisi HBA yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI dua periode. Tidak berubah. Tidak menjauh. Tidak pula sibuk mencari tempat baru ketika kekuasaan telah berpindah arah.

Sebab bagi orang-orang seperti Wo Heri, setia bukan perkara jabatan. Setia adalah menjaga langkah yang telah lama ditempuh bersama.

Orang Melayu berkata: “Ke mudik samo berperahu, ke hilir samo berenang. Sakit senang samo diraso, jauh dekat samo ditempuh. Samo tegak di tanah lapang, samo teduh di bawah awan.”

 

Dan begitulah Wo Heri menjalani hidupnya.

Ia dikenal sebagai pribadi yang santai dan akrab. Di mana ada HBA, di situlah ada Wo Heri. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan masyarakat tentang seorang pendamping tokoh. Lebih dari itu, ia adalah gambaran tentang pengabdian yang dijalani dengan hati yang ikhlas.

Jangan Lewatkan :  Damping Gubernur, Bupati Sarolangun Serahkan Bantuan Dumisake Beasiswa untuk Ratusan Pelajar

Di zaman ketika banyak orang datang karena kuasa lalu pergi ketika masa berubah, Wo Heri justru mengajarkan makna lain tentang kesetiaan. Bahwa tidak semua pengabdian harus berdiri di depan panggung. Ada yang memilih menjadi pelita kecil di belakang layar, tetapi cahayanya tetap menerangi perjalanan panjang seseorang.

Begitulah Wo Heri.

Ia mungkin bukan orang yang paling sering berdiri di mimbar, bukan pula nama yang sibuk disebut dalam pidato-pidato besar. Namun dalam perjalanan panjang politik Jambi, namanya tetap hidup sebagai teman seperjalanan, tenang langkahnya, hangat sikapnya dan setia tanpa banyak meminta dikenang.

Karena dalam adat Melayu Jambi, kemuliaan seseorang bukan hanya diukur dari tinggi jabatannya, melainkan dari sejauh mana ia menjaga budi dan setia pada amanah.

Sekali kato sudah diluah, pantang Melayu mungkir janji.

Bulat air dek pembuluh, bulat kato dek mufakat.

Luko di badan nampak darah, luko janji hilang pecayo.

Adat diisi, lembago dituang, janji dipagang sampai ke ujung.

 

*Tulisan ini disadur dan dikembangkan dari konten tiktok Wo Heri, Suhairy Layin. @babe2640 BabeHery

*Fajri Al Mughni, pendiri Kalam Literasi Indonesia 

Tinggalkan Balasan