Minta Maaf Itu Berat, Kawan. Biar Rismon Saja

Oleh: Fajri Al Mughni

Di negeri yang warganya lebih mudah membuat klarifikasi daripada meminta maaf, tiba-tiba muncul satu adegan langka.

Seseorang yang kemarin berdiri paling depan di barisan serangan, hari ini berdiri paling depan di barisan permintaan maaf.

Namanya Rismon Sianipar.

Yang diminta maaf? Tentu saja kepada Joko Widodo.

Tampaknya, Jokowi terus “memasak”. Dan entah kenapa, ini justru menarik. Bukan karena dramanya. Drama politik di negeri ini sudah seperti sinetron: episodenya banyak, logikanya tipis, tapi penontonnya setia.

Yang menarik adalah satu hal yang jarang kita lihat: keberanian menelan ludah sendiri.

Mari jujur sedikit, kawan. Meminta maaf itu bukan perkara ringan. Apalagi kalau sebelumnya suara kita adalah yang paling keras, paling tajam, dan paling yakin bahwa kitalah pemegang kebenaran mutlak.

Jangan Lewatkan :  Varial Diperiksa Hingga Malam, Bukri Datang ke Polda Tapi Dijadwal Ulang

Orang yang sudah berdiri di atas podium amarah biasanya sulit turun. Bukan karena tangganya hilang, tapi karena gengsi sering lebih tinggi dari podium itu sendiri.

Tapi kali ini, Rismon turun. Dan suka tidak suka, itu butuh nyali. Karena di negeri ini, meminta maaf sering dianggap kalah. Meski dalam bab ini, Rismon memang dinyatakan kalah.

Aku rasa, Rismon menganggap, itulah cara paling elegan untuk berdamai dengan fakta.

Realitas memang punya kebiasaan buruk: ia tidak peduli pada narasi kita.

Jangan Lewatkan :  TGB Tenang Bicara, yang Lain Panik Sendiri

Ia tidak peduli seberapa viral cuitan kita, seberapa lantang podcast kita, atau seberapa ramai pengikut kita di media sosial. Realitas cuma peduli pada satu hal: apa yang benar-benar terjadi.

Mirip sepak bola.

Bayangkan saja kalau Chelsea dibantai oleh Paris Saint‑Germain. Sedih? Pasti.

Marah? Wajar. Tapi papan skor tetap berdiri tanpa rasa bersalah.

Atau ketika Manchester City dibuat tak berkutik oleh Real Madrid. Pendukungnya boleh teriak semalaman, tapi wasit tidak akan kembali meniup peluit untuk memberi kesempatan kedua.

Begitulah hidup.

Kadang kita menyerang dengan keyakinan penuh. Lalu suatu hari fakta datang seperti wasit yang meniup peluit panjang: pertandingan selesai.

Jangan Lewatkan :  Mengenal Sosok Herman Deru, Dua Periode Bupati dan Gubernur Sumatera Selatan 2024

Di titik itu manusia biasanya punya dua pilihan: Pertama, bertahan dengan gengsi sampai akhir, walau papan skor sudah memalukan.

Kedua, berdamai dengan kenyataan meski rasanya seperti menelan cabai satu karung.

Sebagian besar orang memilih yang pertama. Lebih mudah mempertahankan ego daripada memperbaiki kesalahan. Tapi tampaknya, kali ini Rismon memilih yang kedua.

 

Maka mungkin pesannya sederhana saja: Meminta maaf itu berat, kawan. Kalau tak sanggup… biar Rismon saja.

Roy Suryo?

Kita tunggu Jokowi mau bikin menu apa lagi. (*)

*Pendiri Kalam Literasi Indonesia