Oleh: Fajri Al Mughni
Ia berlari sejak ayam belum sempat berkokok. Ia berputar sejak embun masih bergantung di ujung daun. Ia bersuara sebelum manusia sempat menata niat di dalam dada. Jalan-jalan dipenuhi langkah tergesa, pasar-pasar dipenuhi tawar-menawar, kantor-kantor dipenuhi wajah yang pura-pura kuat, dan rumah-rumah menyimpan doa yang tidak semua orang sanggup menceritakannya.
Malam datang dengan gelapnya.
Siang datang dengan cahayanya.
Hujan datang membawa dingin.
Panas datang membawa peluh.
Begitulah alam bekerja. Tidak banyak bertanya. Tidak banyak mengeluh. Malam tidak pernah iri kepada siang karena ia gelap. Siang tidak pernah tinggi hati karena ia terang. Keduanya datang bergantian, seolah hendak mengajari manusia bahwa hidup ini memang giliran: ada masa terang, ada masa kelam; ada waktu ramai, ada waktu sepi; ada ketika tangan menggenggam, ada pula ketika harus melepaskan.
Rindu datang dengan ratapannya.
Kasih sayang datang dengan kelembutannya.
Amarah datang karena marwahnya diganggu.
Dan manusia, kawan, adalah makhluk yang paling sibuk menafsirkan semuanya. Bila rindu datang, ia menulis nama seseorang di dinding ingatan. Bila kasih sayang datang, ia menjadi lunak seperti tanah disiram hujan. Bila amarah bangkit, ia berdiri tegak menjaga harga diri, sebab marwah bagi orang Melayu bukan barang murah yang boleh diinjak-injak sembarang kaki.
Namun biarlah dunia dengan segala lalu-lalangnya.
Biarlah orang-orang sibuk mengejar nama.
Biarlah orang-orang sibuk menghitung laba.
Biarlah kabar buruk datang dari layar kaca.
Biarlah dolar naik turun seperti perahu kecil di tengah gelombang.
Biarlah pejabat tertangkap, pengusaha mengeruk, orang susah tetap susah, dan orang miskin terus diajari sabar sambil dibiarkan menengadah.
Biarlah semua itu riuh di luar sana.
Engkau, kawan, teruslah mengabdi.
Sebab pengabdian bukan pekerjaan orang yang kalah. Pengabdian adalah jalan orang yang mengerti bahwa hidup tidak semata-mata tentang menerima, tetapi juga tentang memberi. Tidak semua yang bernilai harus berbunyi di rekening. Tidak semua yang mulia harus disaksikan orang banyak. Ada amal yang bekerja diam-diam seperti akar pohon: tidak tampak di permukaan, tetapi menahan seluruh batang agar tetap berdiri.
Menjadi abdi dunia bukan berarti menyembah dunia. Menjadi abdi dunia adalah menjadikan hidup ini ladang panjang menuju muara surga. Engkau bekerja di bumi, tetapi niatmu menuju langit. Engkau menanam di tanah, tetapi harapanmu tumbuh di sisi Tuhan. Engkau mengajar, menolong, menulis, membimbing, merawat, membangun, dan menyabarkan diri, bukan karena dunia selalu membayar dengan adil, tetapi karena jiwamu tahu: tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang.
Dunia ini memang sibuk, kawan.
Tetapi lihatlah Majnun.
Di tengah dunia yang riuh, ia tetap sibuk dengan Laila-nya.
Orang-orang menghitung harta, ia menghitung rindu.
Orang-orang membangun istana, ia membangun kesetiaan.
Orang-orang mengejar kedudukan, ia mengejar bayangan cinta yang tinggal di dadanya.
Maka barangkali hidup pun begitu. Setiap manusia punya Laila-nya masing-masing. Ada yang Laila-nya adalah jabatan. Ada yang Laila-nya adalah harta. Ada yang Laila-nya adalah pujian. Ada yang Laila-nya adalah ilmu. Ada yang Laila-nya adalah pengabdian. Dan beruntunglah orang yang Laila-nya bukan dunia yang menipu, melainkan jalan yang membawanya pulang kepada Tuhan.
Jambi adalah negeri Melayu, kawan.
Negeri sungai, negeri adat, negeri petuah. Di tanah ini, orang diajari untuk tegak tanpa sombong, rendah tanpa hina, lembut tanpa lemah. Orang Melayu pantang mengeluh. Orang Melayu pantang meminta-minta. Orang Melayu pantang menjual marwah, sebab marwah itulah pakaian batin yang tidak boleh koyak oleh keadaan.
Kata Zainuddin, “Pantang pisang berbuah dua kali.”
Sekali kehormatan dijatuhkan, jangan mudah mengulang kesalahan yang sama. Sekali janji diucapkan, jagalah ia seperti menjaga nama baik keluarga. Sekali jalan pengabdian dipilih, tempuhlah ia dengan dada lapang, walau kadang kaki berdarah, walau kadang orang hanya melihat hasil dan lupa menghargai lelah.
Takkan hilang Melayu di bumi.
Selama masih ada orang yang menjaga tutur.
Selama masih ada orang yang memuliakan adat.
Selama masih ada orang yang menimbang kata sebelum bicara.
Selama masih ada orang yang memilih sabar bukan karena takut, tetapi karena tahu kapan harus diam dan kapan harus berdiri.
Maka, kawan, jangan campuradukkan rezeki dengan kerja.
Rezeki adalah satu hal.
Bekerja adalah hal yang lain.
Pisahkan keduanya.
Kerjamu adalah pengabdianmu. Kerjamu adalah cara engkau memberi arti pada umur yang singkat ini. Kerjamu adalah kesaksian bahwa engkau pernah hidup, pernah berguna, pernah menyalakan lampu kecil di tengah gelap orang lain.
Adapun rezeki, ia punya jalannya sendiri. Kadang datang dari pintu yang kau ketuk berkali-kali. Kadang datang dari jendela yang tidak pernah kau lihat. Kadang datang melalui tangan orang asing. Kadang datang melalui kehilangan yang mula-mula kau tangisi. Rezeki adalah rahasia Tuhan yang berjalan lebih jauh daripada pikiran manusia.
Jangan sempitkan rezekimu hanya pada satu pintu.
Jangan kurung nasibmu hanya dalam satu ruang.
Jangan sangka Tuhan miskin jalan untuk menolong hamba-Nya.
Petualangan rezekimu dibukakan luas, seluas samudra. Tetapi pengabdianmu harus tetap tegak, setegak pohon tua di tepi Batanghari: akarnya mencengkeram tanah, daunnya menadah langit, batangnya diam, tetapi hidupnya memberi teduh.
Maka bila dunia makin sibuk, engkau jangan ikut kehilangan arah.
Bila orang sibuk menumpuk, engkau sibuklah memperbaiki diri.
Bila orang sibuk menjatuhkan, engkau sibuklah mengangkat sesama.
Bila orang sibuk mencaci, engkau sibuklah menjaga lisan.
Bila orang sibuk mengeluh, engkau sibuklah bekerja.
Bila orang sibuk meminta, engkau sibuklah memberi, meski yang dapat kau beri hanya doa, senyum, atau kalimat yang menenangkan.
Sebab pada akhirnya, kawan, dunia ini hanya persinggahan.
Yang ramai akan sepi.
Yang tinggi akan turun.
Yang muda akan tua.
Yang kuat akan lemah.
Yang berkuasa akan ditanya.
Yang miskin akan dibela oleh doa-doanya.
Yang mengabdi dengan ikhlas akan menemukan bahwa tidak ada jalan sunyi yang benar-benar sia-sia.
Dunia ini sibuk, kawan.
Tapi engkau jangan terlalu sibuk sampai lupa pulang kepada dirimu sendiri.
Jangan terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa ruhmu butuh arah.
Jangan terlalu sibuk mencari rezeki sampai lupa bahwa rezeki pun sedang mencarimu atas izin-Nya.
Teruslah berjalan.
Dengan adat sebagai pakaian.
Dengan iman sebagai pegangan.
Dengan ilmu sebagai cahaya.
Dengan kerja sebagai pengabdian.
Dengan marwah sebagai tiang.
Dengan doa sebagai perahu.
Sebab dunia boleh sibuk sesukanya, kawan.
Tetapi jiwa yang tahu tujuan tidak akan tumbang oleh riuhnya zaman.
*Penulis adalah alumnus Al-Azhar, pendiri Kalam Literasi Indonesia









