Kalau Jambi Gabung Dewan Perdamaian Dunia-Trump

Oleh: Fajri Al Mughni*

Aku tinggal di Jambi. Provinsi yang hening serta damai. Terlalu hening, kadang-kadang. Sampai-sampai, yang sering muncul di berita nasional justru provinsi lain. Nama mereka lalu-lalang di layar ponsel, di televisi, di obrolan warung kopi.

 

Jambi? Ia muncul sopan. Biasanya setahun sekali. Saat ulang tahun. Setelah itu, tenggelam lagi, macam ikan kaloi mengintip daun keladi: muncul sebentar, lalu hilang entah ke mana.

 

Bukan Jambi tak ada cerita. Ada sungai panjang yang sabar mengalir, meski keruh, pokoknya mengalir saja. Ada hutan luas yang menyimpan banyak kisah, kisah pemilik PT.

Masjid Raya Tsamaratul Insan
Masjid Raya Tsamaratul Insan di Kota Jambi. Foto:Senarainews.com

Ada budaya yang kaya, dan masyarakat yang pandai menahan diri. Tapi kesabaran, kalau terlalu lama dipelihara, bisa disalahartikan. Disangka tak punya suara, atau lebih parah, disangka tak punya apa-apa.

 

Aku sering bertanya, sambil minum kopi yang mulai dingin: kenapa Jambi jarang heboh?

Jangan Lewatkan :  Arsenal Kembali Fitrah

 

Di negeri ini, heboh sering jadi tanda kehidupan. Yang ribut cepat dikenal. Yang tenang sering terlewat. Yang bekerja diam-diam kalah pamor dengan yang pandai berisik. Mungkin Jambi terlalu tahu adat. Terlalu santun. Tidak tega berteriak, apalagi berdrama.

 

Jangan-jangan, semua penduduk di Jambi adalah CEO yang sedang menyamar.

 

Jambi pernah menerima penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk yang ke-13 kali berturut-turut atas laporan keuangan daerah. Sebuah prestasi yang serius, rapi, dan membanggakan. Tapi siapa yang bangga ya?

 

Di titik itulah, pikiran sesat ku muncul. Tentu ini hanya satire, jangan dibawa ke rapat resmi, jangan pula diambil hati. Bagaimana kalau Jambi, secara terpisah dan sendiri-sendiri, mengajukan diri untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian buatan Donald Trump?

 

Siapa tahu cocok. Jambi kan tenang. Adem. Minim konflik. Jarang ribut. Mungkin dunia perlu belajar dari Jambi; cara hidup tanpa terlalu banyak kegaduhan. Bayangkan satu konferensi pers internasional, nama Jambi disebut. Walau cuma sebagai catatan kaki geopolitik dunia, tak mengapa. Yang penting disebut.

Jangan Lewatkan :  Pujian Pelatih Venezia untuk Jay Idzes

 

Lalu timbul pertanyaan yang lebih serius, meski nadanya tetap santai:

apakah Jambi benar-benar tenang karena semua masyarakatnya sudah sejahtera?

Kalau iya, sungguh luar biasa. Artinya, Jambi barangkali adalah provinsi dengan derajat surga tertinggi di dunia.

 

Atau jangan-jangan, kita hanya terlalu terbiasa diam?

 

Orang Melayu bilang, “Air tenang jangan disangka tiada buaya.” Padahal buayanya banyak. Bahkan bisa rapat, bisa kampanye, bisa menebar janji, bisa meletakkan batu pertama. Banyak bisa nya.

 

Aku pernah bilang ke orang provinsi lain, “Aku dari Jambi, Bang.” Dia menjawab, “Oh… Kalimantan ya?” Aku senyum saja. Dalam hati, mungkin bukan dia yang kurang tahu. Bisa jadi Jambi yang terlalu jarang memperkenalkan diri.

Jangan Lewatkan :  Ketika Joget Menjadi Kurikulum Tak Tertulis

 

Tulisan ini bukan keluhan. Ia hanya gumam kecil dari orang yang sayang. Aku ingin Jambi sesekali heboh karena hal baik. Karena gagasan besar. Karena keberanian tampil. Sesekali, bolehlah tak sepakat dengan pemerintah pusat. Biar ada catatan Sejarah yang agak seru begitu. Jangan mudah berlutut.

 

Aku ingin anak negeri Jambi yang di luar negeri dipanggil untuk mengabdi, anak bangsanya disekolahkan tinggi-tinggi, anak daerahnya diajarkan menjadi diplomat.

 

Dimulai dari anak pejabat juga tak apalah. Jangan berlebihan saja. Anak kampung yang miskin juga mesti dapat jatah. Bapak kan sebelum jadi pejabat sekarang, konon juga anak kampung yang miskin. Sesama pahamlah kita.

 

Negeri yang baik memang tak perlu gaduh untuk dikenali. Tapi ia tetap perlu suara, agar tidak terus tenggelam dalam ketenangan yang terlalu sempurna.(*)

*penulis