Ada pohon-pohon yang tumbuh karena benih. Ada pula pohon yang menjulang karena akar yang tak pernah putus meminum air dari tanah tempat ia dilahirkan.
Begitulah pesantren-pesantren tua di bumi Melayu Jambi.
Ia berdiri bukan semata-mata oleh batu dan kayu, melainkan oleh nasab perjuangan, sanad keilmuan, dan doa-doa panjang para tuan guru yang tak pernah tercatat di lembar sejarah, tetapi hidup di dada murid-muridnya.
Hari ini, 27 Juni 2026, di Aula Putri Pondok Pesantren Kumpeh Daarutauhid, sebuah ikhtiar baru dipancang.
Bukan sekadar mendirikan organisasi, melainkan menyambung tali yang telah dirajut oleh generasi terdahulu.
Hari ini dideklarasikan WMI (Wihdah Al-Ma’ahid Al-Islamiyah), sebuah persatuan pondok pesantren di Provinsi Jambi yang lahir dari semangat persaudaraan dan kesatuan perjuangan.
Kata Tuan Guru Solahuddin Syargawi, WMI bukanlah pertemuan yang dibangun oleh kepentingan sesaat. Ia bertumpu pada nasab dan sanad keilmuan Perukunan Tsamaratul Insan, sebuah mata rantai ilmu yang telah melahirkan banyak ulama dan pendidik.
Dari rahim perukunan itulah tumbuh empat pesantren induk yang menjadi tonggak perjalanan dakwah dan pendidikan Islam di Jambi:
Pondok Pesantren Jauharen, Pondok Pesantren Sa’adatu Daren, Pondok Pesantren Nurul Islam, dan Pondok Pesantren Nurul Iman.
Empat mata air itu mengalir ke sungai yang sama. Berbeda tepian, tetapi satu arus.
Berbeda halaman, tetapi satu kiblat perjuangan. Sebab dalam tradisi pesantren Melayu, yang diwariskan bukan hanya kitab-kitab kuning, melainkan juga adab, keikhlasan, dan amanah menjaga agama di tengah perubahan zaman.
Deklarasi WMI menjadi penanda bahwa estafet perjuangan tidak berhenti pada generasi pendiri.
Api yang dahulu dinyalakan oleh para tuan guru mesti terus dijaga agar tetap menerangi bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
Sebab kemajuan zaman tidak boleh membuat pesantren kehilangan jati dirinya. Justru dari pesantrenlah lahir keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan hikmah.

Amanah besar itu kini dipikul oleh Tuan Guru M. Chairul Chafis, yang dipercaya mengomandoi WMI.
Kepemimpinan ini bukan sekadar kedudukan, melainkan tanggung jawab untuk merawat persatuan, menguatkan ukhuwah antarpesantren, serta membawa warisan para pendahulu tetap hidup di tengah masyarakat Melayu Jambi.
Semoga WMI menjadi rumah besar bagi pesantren-pesantren yang bernaung di bawah sanad Perukunan Tsamaratul Insan;
menjadi tempat bermusyawarah ketika menghadapi tantangan, menjadi tempat bersatu ketika umat memerlukan bimbingan, dan menjadi suluh yang terus memancarkan cahaya ilmu dari generasi ke generasi.
Karena sesungguhnya, negeri akan tetap tegak selama tuan guru menjaga ilmunya, pesantren menjaga adabnya, dan masyarakat menjaga hormatnya kepada para pewaris nabi.
Di bumi Melayu Jambi, perjuangan itu hari ini kembali diteguhkan. Bukan untuk mengejar nama, tetapi untuk memastikan bahwa warisan para tuan guru akan terus hidup.
Mengalir sebagaimana Sungai Batanghari: tenang, panjang, dan tak pernah berhenti memberi kehidupan. (Fajri Al Mughni, alumnus Mesir, Pendiri Kalam Literasi Indonesia)
Kumpeh, 27 Juni 2026







