Hari Pendidikan: Dirayakan dalam Kesunyian yang Sistematis

Oleh: Fajri Al Mguhni

Sepertinya, negeri ini gemar merayakan bunyi daripada makna, datanglah dua hari yang sejatinya bersaudara: satu bernama Hari Pendidikan Nasional, satu lagi Hari Buruh.

Namun keduanya tampak berbeda; yang satu sunyi macam perpustakaan yang dikunci, yang satu lagi riuh seperti pasar malam di Pulau Temiang.

Hari Pendidikan Nasional lewat dengan khidmat, terlalu khidmat, sampai-sampai tak terdengar. Tak ada panggung megah, tidak ada sembako yang dilempar bagai umpan ke kolam lapar, tak ada janji manis yang dibungkus pita. Yang ada hanya guru-guru yang tetap mengajar, murid-murid yang tetap mencatat, dan harapan yang tetap digantung tanpa tanggal pasti.

Hari Buruh dirayakan dengan gegap gempita. Ada konser besar, ada hadiah yang berserak seperti dedaunan musim gugur, ada pidato yang manisnya melebihi gula aren.

Bahkan ada hiburan tambahan: satire hidup yang tak perlu ditulis, cukup didengar, ketika pertanyaan Presiden; apakah MBG bermanfaat bagi kalian? pertanyaan dilontarkan kepada para buruh yang diambung-ambungnya. Dan, duhai kawan-kawan buruh serta netizen yang budiman, mari serentak kita jawab;…..

Jangan Lewatkan :  Arsenal Kembali Fitrah

Wak, sebagai guru, aku tak iri. Iri itu pekerjaan hati yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Kami ini sudah terlalu lama hidup dalam filsafat sabar: menanam tanpa jaminan panen, mengajar tanpa janji dihargai, dan berharap tanpa kepastian didengar. Maka sunyi bagi kami bukan hal baru, ia bahkan sudah menjadi kurikulum tersembunyi.

Namun izinkan aku bertanya, bukan sebagai pengeluh, melainkan sebagai pencinta logika: bagaimana mungkin sebuah bangsa merayakan tenaga tanpa merayakan ilmu? Bukankah buruh bekerja dengan otot yang diarahkan oleh pengetahuan? Dan bukankah pengetahuan itu lahir dari ruang-ruang sunyi yang kini kita biarkan kosong?

Kita ini seperti orang yang memuji hasil panen, tapi lupa menyiram benih. Kita tepuk tangan untuk gedung yang berdiri, tapi menutup mata pada sekolah yang runtuh pelan-pelan. Kita rayakan keringat, tapi lupa bahwa arah keringat ditentukan oleh pikiran.

Jangan Lewatkan :  Ketika Joget Menjadi Kurikulum Tak Tertulis

Buruh dan pendidik itu bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Mereka ibarat siang dan malam, berbeda, namun saling melengkapi. Tanpa buruh, negeri ini lumpuh. Tanpa pendidik, negeri ini bingung.

Yang satu menggerakkan roda, yang satu menentukan ke mana roda itu berjalan. Tapi tampaknya, kita lebih sibuk menghias roda daripada memastikan arahnya benar.

Ah, mungkin pemerintah sedang rapat. Rapat yang panjang, penuh slide, penuh grafik, penuh istilah yang terdengar pintar. Mungkin mereka sedang bertanya, “Mengapa negeri ini terasa makin diserang?” Padahal serangannya bukan dari luar, ia tumbuh dari dalam, dari keputusan-keputusan yang lebih mencintai gemerlap daripada makna.

Atau mungkin, ini semua memang sudah dirancang begitu rupa. Bahwa pendidikan cukup dirayakan dengan upacara, sementara buruh dirayakan dengan hiburan. Bahwa ilmu cukup dihormati dengan pidato, sementara tenaga dihargai dengan panggung. Sebuah keseimbangan yang tampak adil di permukaan, tapi timpang di dalam.

Jangan Lewatkan :  Demontrasi Tak Harus Dibaca dengan Kacamata Investasi

Wak, bukan pula maksudku Hari Pendidikan harus dirayakan dengan konser dangdut. bukan juga dengan sembako yang diserak-serakkan. Bukan, bukan begitu.

Namun sudahlah, wak. Kami para guru akan tetap di sini. Mengajar di ruang yang kadang bocor, menulis di papan yang kadang retak, dan berharap di negeri yang kadang lupa. Kami tak butuh konser, tak perlu sembako yang dilempar-lemparkan seperti hadiah undian.

Kami hanya ingin satu hal yang sederhana, tapi tampaknya paling sulit: agar pendidikan tidak sekadar diperingati, melainkan dipikirkan.

Selamat bekerja, bapak ibu menteri. Silakan lanjutkan rapatnya, lanjutkan kopinya. Di sini, kami tetap mengajar dan sambil itu, kami memantau. Bukan dengan teriak, tapi dengan diam yang panjang. Karena dalam diam itulah, seringkali, kebenaran paling nyaring terdengar.

Tinggalkan Balasan