Tentang Joget 6 Juta per Hari yang Ramai Itu

Oleh: Fajri Al Mughni

Ini program mulia. memberi makan anak-anak, bergizi, gratis. Gratis karena anak tak bayar. Lalu datang kabar: enam juta sehari. Bukan untuk anak-anaknya, tapi untuk yang mengurus “kemuliaan” itu. Dan entah bagaimana, angka itu tidak dibisikkan pelan-pelan seperti rahasia dosa, tapi dipamerkan sambil berjoget.

Ini bukan lagi ironi, wak. Ini seperti satire yang menulis dirinya sendiri, lalu menertawakan kita yang masih mencoba berpikir logis. Dulu kita diajari bahwa korupsi itu penyakit. Sekarang, entah siapa yang mulai, ia disebut “budaya”.

Kata yang biasanya kita simpan untuk batik, bahasa, dan gotong royong, kini dipaksa “semangkuk dengan korupsi”.  Seperti menyandingkan air dengan minyak, lalu berharap mereka akur demi narasi.

Jangan Lewatkan :  Lagi Kasus Dokter Cabul, Rekam Mahasiswi yang Sedang Mandi

Padahal dari dulu kita tahu: mereka tidak pernah benar-benar menyatu, hanya pura-pura tenang sebelum terpisah lagi. Pak Prabowo pernah bilang, lebih baik uang itu dipakai untuk memberi makan anak-anak daripada dikorupsi.  Kalimat yang, kalau berdiri sendiri, terdengar seperti akal sehat yang sederhana.

Tapi masalahnya bukan di kalimat itu. Masalahnya selalu di manusia yang berdiri di belakangnya, yang kadang lebih pandai menari daripada menjaga amanah. Isu sosial itu sensitif, wak. Program pemerintah juga sensitif. Tapi yang membuatnya benar-benar meledak bukan kritik, melainkan pamer. Pamer keuntungan dari sesuatu yang seharusnya dijaga dengan rasa. Apalagi ditambah joget-joget, seolah-olah moral bisa dikompensasi dengan irama.

Jangan Lewatkan :  Bus Putra Remaja Tujuan Jambi Terbakar di Tol Cipali

Dan jujur saja, yang paling menyakitkan bukan angka enam jutanya. Tapi cara menikmatinya. Diam saja mungkin masih bisa kita sebut lupa diri. Apalagi sudah dipamerkan sambil bergoyang, itu bukan lagi lupa, itu keputusan sadar untuk menertawakan nurani.

Jadi wajar kalau orang bertanya, “di mana letak otakmu, wak?” Karena kadang, yang hilang bukan kecerdasan. Tapi rasa malu.

Sekali lagi, aku pahamlah modal yang kau keluarkan sebagai rekanan pemerintah untuk program MBG, besar. Lalu kau rasa pantas dapat 6 juta/hari. Aku rasa juga pantaslah (mungkin). Itu hak kau, wak.

Jangan Lewatkan :  Prajurit TNI Tersangka Penyiraman Air Keras dari Angkatan Laut dan Udara

Yang tak pantas, nurani dan cara mu bersyukur atas itu.

Saran ku, seperti biasa, klarifikasi saja lah. Minta maaf macam Rismon. Tak apalah agak sedikit berakting sedih, malu, khilaf, sedikit memelas. Jangan kau tantang netizen di republik ini. Bisa muntah kau. Yakin aku.

Sudahlah, kue Lebaran di rumahku masih banyak. Tapi yang enak-enak sudah mulai berkurang. Bukan tamu yang makan, tapi aku. (*)

*Alumnus Mesir dan Pendiri Kalam Literasi Indonesia

Klarifikasi Joget 6 Juta

Tinggalkan Balasan