Seni Lama Kekuasaan: Panggil Ulama, Tenangkan Umat

Oleh: Fajri Al Mughni*

Ada kabar menarik: presiden mengundang ulama ke istana. Pertanyaan kecil pun muncul di kepala orang kampung macam aku: ini undangan untuk meminta nasihat, atau untuk meminta ulama menenangkan umat?

Dua-duanya tampak mirip, tapi sebenarnya beda tipis. Yang satu mencari kebenaran, yang satu lagi mencari ketenangan suasana.

Andai Abu Nawas masih hidup, mungkin dia juga dapat undangan. Tapi Abu Nawas itu makhluk langka: kalau diundang raja, dia bisa menolak. Kalau dijemput paksa, dia datang sambil membawa cerita yang membuat raja tertawa, sekaligus berpikir.

Bedanya dengan hari ini, Abu Nawas dulu diundang untuk menghibur raja. Sedangkan ulama kita sekarang kadang diundang untuk menghibur rakyatnya.

Jangan Lewatkan :  Perihal Tersangka Sabu yang Raib dari Polda Jambi, Kabur Atau Izin?

Supaya rakyat tenang.
Supaya suasana adem.
Supaya kritik berubah jadi nasihat yang dibungkus senyum.

Ada juga yang tidak datang, seperti Ustaz Abdul Somad. Mungkin karena ia pernah berkata, “Kalau bapak jadi presiden, jangan undang aku ke istana.”

Kalimat itu sederhana, tapi maknanya berat. Karena ada ulama yang merasa lebih nyaman berbicara dari mimbar rakyat daripada dari sofa istana. Padahal kalau dipikir-pikir, UAS kadang mirip Abu Nawas juga.

Satirnya tajam, sarkasnya halus, tapi pesannya bisa menembus kepala yang paling keras sekalipun. Sementara itu, dari dalam istana terdengar kabar bahwa presiden siap menerima nasihat, masukan, bahkan kritik. Itu disampaikan oleh Buya Yahya, seorang ulama yang tutur katanya lembut dan menenangkan. Dan jujur saja, aku harus memberi apresiasi pada tim presiden.

Jangan Lewatkan :  Scroll, Klik, Lalu Percaya: Kebiasaan Pilih-Pilih Berita

Strateginya jitu sekali. Karena mereka tahu satu hal yang sederhana dalam psikologi umat:

“Kalau Buya Yahya yang bicara, banyak orang akan luluh.”

Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal memahami siapa yang paling dipercaya untuk menenangkan keadaan.

Namun ada satu kegelisahan kecil yang masih menggantung di udara. Kritik umat terasa seperti angin lalu. Ia terdengar, tapi jarang terlihat perubahan arah.
Mungkin aku saja yang kurang membaca berita.

Kalau memang ada progres, tolonglah diberitakan. Tapi kalau boleh memberi saran kecil kepada para wartawan: jangan terlalu sibuk memuji program pemerintah.
Sesekali tulislah berita yang menjelaskan sesuatu dengan logika.

Jangan Lewatkan :  Setelah Indonesia Gagal ke Piala Dunia, Jay Idzes: Kami Salahkan Diri Sendiri

Bukan sekadar pujian, bukan sekadar promosi. Karena rakyat sebenarnya tidak terlalu butuh hiburan dari istana. Rakyat hanya ingin satu hal sederhana: didengar tanpa perlu ditenangkan.

Eh iya, semalam aku bermimpi dapat THR. Jumlahnya sangat besar. 335 Triliun.