Tanpa Intervensi, Tol Jambi–Palembang Bisa Geser Konsumsi dan Talenta ke Sumsel

SENARAINEWS.COM – Pengamat ekonomi Jambi, Dr. Noviardi Ferzi, mengingatkan bahwa pembangunan Jalan Tol Jambi–Palembang memang membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru, tetapi tanpa strategi intervensi yang matang, justru berisiko menggeser konsumsi masyarakat dan talenta muda Jambi ke Sumatera Selatan.

Menurut Noviardi, pemangkasan waktu tempuh dari 10–12 jam menjadi sekitar 3 jam setelah ruas Ness–Tempino–Bayung Lencir dan seluruh koridor beroperasi penuh akan meningkatkan efisiensi logistik secara signifikan. Distribusi sawit, arus barang konsumsi, hingga pasokan pangan dari Sumsel akan lebih cepat dan murah.

“Secara makro, potensi kenaikan PDRB Jambi bisa mencapai 0,5 hingga 1 persen pada fase awal operasi penuh. Itu angka yang realistis untuk kota menengah dengan basis ekonomi komoditas,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Jangan Lewatkan :  Timnas U17 Satu Grup dengan Brasil, Ini Hasil Drawing Piala Dunia U17

Ia memahami optimisme yang disampaikan Gubernur Al Haris yang menyebut tol sebagai urat nadi perekonomian provinsi. Namun ia menegaskan, pengalaman sejumlah ruas Tol Trans Jawa menunjukkan bahwa konektivitas tidak otomatis menghadirkan pemerataan.

“Masalah klasiknya ada tiga : proyeksi lalu lintas sering overestimate 20–30 persen, periode penyesuaian bisa 3–4 tahun, dan efek bypass yang memukul UMKM kota lama,” katanya.

Fenomena bypass, lanjutnya, membuat kendaraan dan wisatawan tak lagi singgah di pusat kota. Di beberapa wilayah Jawa Tengah, omzet pelaku usaha di jalur lama turun 25–35 persen setelah tol beroperasi penuh. Bahkan, di Sumatera Utara pada ruas Tol Simpang Panei–Pematangsiantar, kota-kota penyangga kehilangan arus belanja karena kendaraan langsung melintas.

Jangan Lewatkan :  Inovasi, di Gerai MPP Kota Jambi Bisa Urus e-Paspor

Risiko yang lebih krusial bagi Jambi, kata Noviardi, adalah arus modal keluar ke Palembang. Dengan infrastruktur lebih matang, pusat perbelanjaan besar, tenaga kerja terampil, dan pasar yang luas, Palembang berpotensi menyerap investasi dan konsumsi dari Jambi setelah akses makin mudah.

“Jika tidak diantisipasi, warga Jambi bisa belanja ke Palembang, investor membuka gudang di Sumsel, dan talenta muda memilih bekerja di sana karena peluang lebih besar. Itu yang saya sebut sebagai migrasi konsumsi dan brain drain,” tegasnya.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah segera menyiapkan zona ekonomi baru di sekitar pintu tol seperti Muaro Jambi atau Seko dengan fokus agroindustri dan logistik. Insentif pajak daerah lima tahun dinilai penting untuk menjaga retensi investasi tetap berada di dalam provinsi.

Jangan Lewatkan :  Warga Sumsel Ditangkap di Jambi Perkara BBM Olahan Ilegal

Selain itu, digitalisasi sedikitnya 1.000 UMKM kota lama harus dipercepat agar mereka tidak hanya mengandalkan arus kendaraan fisik. “Tol harus menjadi jalur distribusi digital melalui e-commerce, bukan sekadar jalur lewat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan vokasi dan kemitraan kampus–industri untuk menyiapkan ribuan tenaga kerja rantai pasok sawit dan logistik, guna mencegah perpindahan SDM produktif ke luar daerah.

“Tol adalah instrumen ekonomi. Kalau dikelola strategis, ia jadi pengungkit pertumbuhan inklusif. Tapi kalau dibiarkan tanpa desain kebijakan, ia bisa berubah menjadi saluran keluar modal,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan