Oleh: Fajri Al Mughni
Beragama Itu wajib pakai pikir, Wak. Bukan sekadar kutip terjemahan. Beragama tanpa logika itu seperti masak gulai tanpa api. Bahannya lengkap, bumbunya harum, tapi tak pernah matang.
Dalil agama bukan sekadar teks terjemahan yang dipajang, lalu dipukul-pukul ke kepala orang lain. Ia punya alat. Punya metodologi. Punya disiplin. Paling dasar, ada ilmu mantiq-logika.
Supaya tahu mana premis, mana kesimpulan. Supaya tak semua yang terdengar heroik otomatis benar. Naik sedikit, ada filsafat. Bukan untuk bikin iman goyah, tapi untuk melatih cara berpikir agar tak gampang goyah.
Kalau filsafat terasa terlalu berat, silakan buka ilmu kalam. Itu disiplin klasik ulama untuk membela akidah dengan argumen rasional.
Kalau ilmu kalam pun masih terasa seperti makan durian dengan sendok; ya sudah, pakai logika sederhana saja. Logika warung kopi. Logika bangku kayu depan rumah.
Kau tak sepaham dengan Iran karena Syiah. Baik, itu hakmu. Perbedaan teologi itu realitas. Tapi lalu kau berkisah dengan pemahaman setengah matang bahwa Iran sahabat lama Israel.Kau ulang-ulang cerita itu tanpa cek konteks sejarah, tanpa bedakan rezim, tanpa paham geopolitik.
Lalu kau bergembira dengan kabar wafatnya Ali Khamenei (yang bahkan kabarnya saja sering simpang siur), dan pada saat yang sama kau bersorak ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, hanya karena ia Syiah.
Di sini logika mulai batuk-batuk. Jika standar kebencianmu adalah perbedaan mazhab, mengapa standar kegembiraanmu adalah bom dan rudal?
Sejak kapan akidah dibela dengan tepuk tangan pada dentuman? Kalau engkau menolak Syiah atas nama menjaga Islam, lalu kau senang ketika negeri Muslim dihantam oleh kekuatan yang secara historis justru banyak berkonflik dengan dunia Islam.
itu namanya bukan konsisten. Beragama itu bukan lomba cepat-cepat marah. Bukan pula festival mengkafirkan sambil mengabaikan sebab-akibat.
Ilmu mantiq mengajarkan: kalau premisnya rusak, kesimpulannya pasti cacat. Kalau informasi separuh, vonisnya juga separuh matang.
Kalau sumbernya cuma potongan ceramah dan potongan berita, ya pikirannya ikut terpotong-potong.
Maka sebelum menuduh orang “termakan syubhat”, periksa dulu: jangan-jangan kita yang termakan narasi.
Sebelum bersorak atas kematian, tanya dulu: apa benar ini posisi moral yang kau ingin pertanggungjawabkan?
Logika sederhana saja, wak: Kalau kau benci karena beda paham, jangan sampai kebencian itu membuatmu kehilangan akal.
Sebab agama tanpa akal melahirkan fanatisme.
Dan fanatisme tanpa logika cuma menghasilkan satu hal: kegembiraan atas luka orang lain, sambil merasa paling benar.
Kalau begitu cara beragamamu, bukan cuma logika yang sakit, nurani pun ikut demam. (*)
Fajri Al Mughni
Alumnus Mesir dan Pendiri Kalam Literasi Indonesia










