Orang Melayu dan Hutan

“Wak, macam mano orang Melayu dulu membuka hutan untuk berkebun? Dibakar jugo?”

Dulu, wak, orang Melayu membuka hutan dengan cara yang sederhana. Menebas, menebang, kemudian membakar. Alatnyo pun bukan macam sekarang. Cukuplah parang dan kapak, untuk membersihkan pohon-pohon kecik, ranting, semak, dan segala yang menghalangi tanah hendak ditanam.

Kayu dan daun yang sudah ditebas dibiarkan kering. Setelah itu barulah dibakar secara terkendali. Abu bekas pembakaran dipercayo dapat menyuburkan tanah dan mengubah sifat tanah supaya lebih sesuai untuk ditanami.

Tapi orang Melayu bukan sekadar pandai menebang. Ia jugo pandai membaca alam.

Sebelum membuka hutan, sebagian orang dulu meminta izin. Kepada siapa? Kepada alam, kepada leluhur, kepada sesuatu yang diyakini menjaga tempat itu. Doa dibaco, jampi dilafazkan. Bukan karena orang Melayu takut kepada hutan, tapi karena ia tahu: hutan bukan sekadar kumpulan batang kayu. Di situ ada kehidupan yang sudah lebih dulu tinggal sebelum manusia datang membawa parang.

Musim pun dihitung. Arah angin diperhatikan. Musim kemarau dipilih. Api bukan dilepas begitu saja macam orang membuang puntung rokok ke halaman. Api mesti dijaga, sebab orang Melayu tahu betul, kalau api sudah berjalan tanpa tuan, yang terbakar bukan lagi kebun yang hendak dibuat, tapi kampung, hutan, bahkan masa depan.

Jangan Lewatkan :  Zakat untuk MBG? Kau Kira Tuhan Bendahara Negara?

Wak, kau harus sadar: kau orang Melayu. Maka banyak-banyaklah ngopi.

Kata kawan aku, kopi itu ada pasangannyo: rokok. Tapi yang satu ini aku dak berani mengkampanyekannyo di ruang publik. Nanti aku pula yang disalahkan kalau anak bujang duduk di kedai kopi, kopinya tinggal separuh, asapnya sudah memenuhi satu kedai.

Orang Melayu itu, wak, wawasan paling luas dalam dirinya adalah alam. Tentang sungai, tentang batang air, tentang tanah, tentang hujan, tentang kebun. Sekarang bertambah lagi satu: tentang kebun sawit.

Dulu, jihad ekonomi orang Melayu boleh jadi adalah mendulang emas di sungai. Pergi pagi, pulang membawa sedikit rezeki. Sekarang alat mendulang sudah makin canggih. Saking canggihnyo, kadang-kadang yang didapat bukan cuma emas, tapi sungai yang makin kurus, tanah yang makin luka, dan alam yang perlahan-lahan kehilangan sabarnyo.

Jangan Lewatkan :  Sejumlah Kesamaan Prabowo Subianto dan Anwar Ibrahim

Orang Melayu itu unik, wak.

Pagi-pagi ia bekerja. Menebas, berkebun, turun ke sungai, mengurus getah, sawit, atau apo sajo yang boleh membuat periuk tetap berasap.

Tapi siang sudah duduk di kedai kopi.

Malam pun masih di situ.

Kopi di tangan. Domino di atas meja.

Kalau dilihat sepintas, macam orang malas nian.

Tapi jangan cepat menuduh.

Boleh jadi ia bekerja setengah hari, tapi hasilnyo cukup untuk menghidupi anak bini sampai mati. Yang orang kota sebut malas, kadang-kadang cuma cara orang kampung menikmati hidup setelah penat bekerja.

Orang Melayu jugo terkenal malas merantau.

Bukan karena dak berani.

Untuk apo merantau jauh-jauh, kalau di kampung sendiri masih banyak waktu untuk menganggur?

Lagipula, lucu jugo hidup ini. Orang Melayu malas merantau, tapi orang-orang datang merantau ke negeri Melayu.

Jangan Lewatkan :  Dunia Sedang Mempersiapkan Kedigdayaan, Aku Sibuk Menyiapkan Kue Lebaran

Mereka datang mencari tanah.

Mencari kebun.

Mencari sungai.

Mencari rezeki.

Sedangkan orang Melayu duduk di kedai kopi, memandang semua itu sambil menyeruput kopi yang sudah tinggal ampas.

Mungkin begitulah orang Melayu.

Ia tidak selalu mengejar dunia.

Kadang-kadang ia membiarkan dunia datang kepadanya.

Tapi wak, ada satu perkara yang jangan dilupakan: alam itu bukan warisan kita seorang. Kita cuma menumpang sebentar di tanah yang sudah jauh lebih tua daripada umur kita.

Kalau hutan dibuka, bukalah dengan akal. Cuma hati-hati, takutnya nama kau masuk dalam laporan polisi.

Kalau kebun ditanam, tanamlah dengan hati. Jangan kemaruk nian.

Sebab suatu hari nanti, ketika kopi tinggal ampas dan domino sudah disimpan, yang akan tetap tinggal adalah tanah tempat anak cucu kita berpijak.

Dan tanah itu, wak, tak pandai mengadu.

Ia cuma diam.

Sampai suatu hari, diamnya menjadi bencana. (*)

*Fajri Al Mughni, penulis adalah pendiri Kalam Literasi Indonesia, alumnus Al Azhar Mesir

Tinggalkan Balasan

Tag Terkait