Oleh: Fajri Al Mughni
Wak, sekarang ini banyak masjid memperingati Nuzulul Qur’an. Lampu terang, spanduk terpasang, pengeras suara disetel sampai ke warung bakso ujung gang. Ramai benar suasana.
Aku pun coba membayangkan sejenak peristiwa awalnya. Ketika Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu di Gua Hira, di lereng Jabal al-Nour itu. Gua itu kecil saja. Muat paling tiga orang. Tidak ada karpet merah. Tidak ada backdrop acara. Tidak ada panitia konsumsi.
Yang ada hanya seorang manusia yang baru saja berhadapan dengan sesuatu yang amat besar: wahyu dari langit. Riwayat bilang, setelah menerima ayat pertama, yakni permulaan Surah Al-Alaq, Rasulullah pulang dalam keadaan demam menggigil.
Tubuhnya gemetar. Hatinya penuh tanya.
Lalu siapa yang menenangkannya?
Istrinya, Khadijah binti Khuwaylid.
Perempuan itu mendaki bukit membawa makanan dan selimut. Menenangkan suaminya yang baru saja menerima tugas paling berat dalam sejarah manusia.
Aku baca bagian itu lama wak. Terharu juga. Karena tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sederhana: Kalau aku demam, istriku juga sibuk cari selimut, cari obat, rebus air.
Istrimu begitu juga gak?
Yang belum ada istri, kau bayangkan saja lah. Begitulah rupanya sejarah besar sering berdiri di atas hal-hal kecil yang penuh kasih.
Banyak orang menafsirkan wahyu pertama itu sebagai tanda dimulainya revolusi besar: perintah membaca.
“Iqra.” Bacalah. Belajarlah. Gunakan akal.
Supaya manusia tidak mudah diperdaya kabar bohong. Supaya umat tidak gampang diseret emosi oleh cerita yang belum tentu benar. Pendek kata: supaya umat tidak gampang kena hoaks.
Tapi lihatlah sekarang; Di banyak masjid, acara Nuzulul Qur’an kadang berubah jadi acara simbolik. Bahkan bukan sekadar simbol. Kadang sudah menjelma formalitas tahunan.
Panitia sibuk mencari penceramah. Spanduk dipasang. Kursi diatur. Sound system diuji berkali-kali. Yang penting acaranya ramai dan menghibur. Karena kalau jemaah tidak terhibur, penceramah itu bisa kena hukuman sosial paling berat di dunia dakwah modern: Tidak diundang lagi. Blacklist. Mulut ke mulut. Sadis.
Begitulah nasib penceramah zaman ini.
Kalau dulu Rasulullah demam karena menerima wahyu, sekarang ada yang demam karena tidak menerima undangan ceramah.
Ada riwayat lain pula wak. Surah pertama yang turun secara utuh adalah Surah Al-Muddathtsir. Saat itu Rasulullah sedang berselimut. Lalu datang perintah yang singkat tapi mengguncang dunia: “Bangunlah. Berilah peringatan.”
Artinya jelas: dakwah harus keluar dari gua. Tidak boleh hanya jadi renungan pribadi. Tidak boleh berhenti di lingkaran kecil orang saleh saja. Harus disampaikan ke masyarakat.
Dan ketika Rasulullah mulai berdakwah terang-terangan, para pembesar Quraisy mulai kepanasan.
Bukan karena dalilnya lemah.
Bukan karena logikanya kacau. Tetapi karena kepentingan mereka terganggu.
Bisnis berhala bisa runtuh. Struktur kekuasaan bisa berubah. Prestise sosial bisa ambruk.
Maka mereka melawan.
Dengan propaganda. dengan ejekan. Dengan tekanan politik.
Kalau ku perhatikan baik-baik, pola itu tidak terlalu berubah sampai hari ini. Ketika ada penceramah yang sekadar mengingatkan penguasa, bukan dalilnya yang dibahas dulu. Yang kepanasan justru para buzzer.
Mereka ribut bukan karena ayatnya salah. Tetapi karena takut bos besar mereka turun pamor. Jadi kadang aku berpikir begini, memperingati Nuzulul Qur’an itu bagus. Sangat bagus. Tapi mungkin lebih bagus lagi kalau kita tidak berhenti pada seremoninya saja. Karena wahyu pertama itu bukan sekadar peristiwa.
Ia adalah perintah membaca. Perintah berpikir. Perintah melawan kebodohan.
Bukan perintah melawan kelaparan. Tolong jangan kau pelesetkan kalimat ini wak. Aku sama sekali tidak menyinggung MBG.
Dan kalau benar kita mengikuti semangat wahyu itu, seharusnya umat Islam hari ini bukan cuma paling rajin memperingati turunnya Al-Qur’an. Tapi juga paling rajin membaca, berpikir, dan berkata benar.
Kalau tidak begitu, Nuzulul Qur’an tinggal acara tahunan saja. Ramai di spanduk. Sepi di kepala.
Ohya, aku takut lupa; jangan kau kira pohon kelapa bergeser ke depan pintu rumah mu, kau dapat lailatul qadar.
Itu tanda gempa wak.
*Alumnus Mesir dan Pendiri Kalam Literasi Indonesia









