HBA Masih Berbahaya, Wak

Wak, angin politik di Jambi mulai berembus. Belum lagi musim pilkada datang, daun-daun sudah mulai bergoyang. Padahal pesta memilih Gubernur Jambi masih tiga tahun lagi, tahun 2029.

Tapi bagi orang politik, tiga tahun tu sekejap mata. Belum sempat kopi di cangkir jadi dingin, strategi sudah disusun sampai berlapis-lapis.

Mulailah tokoh-tokoh politik Jambi turun ke laman, ke dusun, ke pasar, ke masjid, ke kenduri. Senyum mereka makin murah, salaman makin panjang. Media pun bersiap jadi tukang hias; siapa yang datang membawa pesanan, dialah yang dibungkus serapi mungkin, kabut asap jadi embun.

Para bupati makin rajin keluar kantor. Kalau ditanyo kenapo? jawabnyo kompak.

“Kantor kami kini di lapangan bersama masyarakat”

Jangan Lewatkan :  Maklumat Muhammadiyah Bali: Takbiran di Rumah saat Nyepi

Kalimat itu indah didengar, walau kadang lebih sering terdengar daripada terlihat.

Sementara itu, para donatur mulai membuka kalkulator. Pemilik perusahaan menghitung modal untuk menggerakkan “boneka” politiknya.

Pemilik tambang menyisihkan sedikit dari ujung berliannya; bukan untuk membeli emas rakyat, tapi untuk mengisi gelas kopi para tim sukses yang mulai keliling kampung dari subuh sampai larut malam.

Tapi wak, dari sekian banyak nama yang mulai disebut orang, satu nama ini masih membuat banyak orang diam-diam menghela napas: HBA, Hasan Basri Agus.

Masih berbahaya.

Berbahaya bukan karena gaduh. Justru karena namanya masih punya gema. Ia masih menghantui mental orang-orang yang berniat maju.

Jangan Lewatkan :  Ketika Joget Menjadi Kurikulum Tak Tertulis

Ada calon yang mungkin belum bertarung, tapi sudah sibuk menghitung kalau-kalau HBA benar turun gelanggang.

Dulu aku pernah menulis, “HBA Bikin Cemas.” Rupanya waktu itu beliau tak jadi maju.

Orang bilang beliau lebih memilih mendorong Uwo Haris. Entah itu strategi, entah itu ikhtiar. Politik memang sering menyimpan cerita di balik senyum.

Maka kali ini aku berani berspekulasi lagi.

Kalau benar HBA turun gunung dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jambi pada 2029, peta pertandingan bisa berubah.

Nama yang sudah merasa di depan, bisa mendadak menoleh ke belakang. Sebab dalam politik, ada orang yang bekerja membangun popularitas, ada pula yang cukup membawa nama lama untuk membuat lawan mulai gelisah.

Jangan Lewatkan :  Pesan Wali Kota Jambi Maulana dalam Pilkate Serentak, Ketua RT Juga Pemangku Adat

Jadi, wak, kalau benar tim Pak HBA sedang mulai menyusun langkah, kampanyelah pelan-pelan bae. Jangan dipakso beliau keliling dari pagi sampai malam. Jaga kesehatan beliau, sebab umur bukan lagi soal kuat berjalan, tapi soal bijak memilih langkah.

Dan satu lagi, jangan tiap hari menyuguhkan berita yang membuat telinga panas dan hati resah. Politik sudah cukup bising. Jangan ditambah dengan kabar yang menyesatkan.

Karena di Jambi, kadang yang paling berbahaya bukan lawan yang paling ribut. Yang paling berbahaya justru orang yang membuat lawannya gelisah sebelum pertandingan benar-benar dimulai. (Fajri Al Mughni, Pendiri Kalam Literasi Indonesia)

 

Tinggalkan Balasan