Pak Gubernur… Api Sudah Hilang, Asap Keluar dari Batang Pisang

Aku tak berniat menyenggol Pak Gubernur. Dak pula nak melawan. Cuma telinga ini masih pandai mendengar, mata ini masih pandai pedih. Ketika beliau bilang dengan yakin, “Di Jambi dak ado api lagi. Yang ado cuma asap bekas kebakaran,” aku cuma manggut pelan. Mungkin benar. Tapi asap ini rupanya belum tahu kalau apinya sudah pensiun.

Logikanya sederhana nian, Pak.

Gambut itu bukan kayu bakar di dapur. Sekali ia menyala, api masuk ke dalam perut bumi. Diam-diam, tapi panjang umurnya. Di atas nampak asap, di bawah bara masih merayap macam ular mencari jalan. Jadi kalau asap masih lahir tiap hari, orang kampung biasanya tak sibuk bertanya asap dari mana. Mereka tahu, induk dari asap itu masih belum betul-betul mati.

Jangan Lewatkan :  HBA dan Suhairy Layin, Sang Penguat Batang Menjulang

Lalu datanglah surat edaran Pak Wali Kota.

Anak SD kelas satu dan dua sekolah daring. Kelas tiga sampai enam tetap berangkat seperti biasa. Nah, di sinilah otakku mulai berasap pula.

Aku memang bukan dokter. Dak pandai menghitung paru-paru berdasarkan nomor kelas. Dak tahu apakah anak kelas tiga punya paru-paru edisi premium, lebih tahan kabut daripada adik kelas satu. Yang aku tahu, orang dewasa macam kami ini saja sudah megap-megap menghirup udara. Bangun pagi dada terasa penuh, sore mata pedih, malam kepala pening. Apolagi budak-budak yang hobinya lari-lari di lapangan.

Jangan Lewatkan :  Ini Bukan Soal Dugaan Korupsi Al Haris, Ini Korupsi di Jambi yang Terarsipkan

Andai hari ini umurku masih sepuluh tahun, masih pakai baju merah putih, mungkin aku memilih duduk di rumah. Dak kuat aku main kejar-kejaran pakai masker. Dak kuat mendap dalam kelas dari pagi sampai sore, kipas mutar, jendela terbuka, tapi yang masuk bukan angin, melainkan asap yang tak diundang.

Raso tanggung nian surat edaran itu, Pak Wali.

Kalau memang udara sedang dak sehat, yo sekalian bae. Liburkan dulu tatap muka semua jenjang. Jangan asap ini disuruh memilih umur. Sebab yang dihirup itu udara yang samo, langit yang samo, paru-paru yang samo-sama butuh bernapas.

Tapi satu pintaku, Pak.

Guru-guru tetap digaji. Jangan sampai nanti asap dijadikan alasan dompet ikut berkabut. Kasihan guru, dak salah apo-apo, tahu-tahu gaji hilang bersama jarak pandang.

Jangan Lewatkan :  Gelombang Setinggi 2 Meter Hancurkan 3 Rumah di Desa Air Hitam Laut

Kini kami jadi bingung, Pak Gubernur.

Katanya api sudah dak ado. Tapi Jambi malah diumumkan sedang dak sehat. Berarti yang bikin sesak ini siapa? Asap bekas api? Wah, kalau bekasnya saja sanggup meliburkan sekolah, apinya waktu hidup pasti pegawai negeri—sudah mati pun masih rajin bekerja.

Di Jambi ini memang kadang lucu. Api bisa dinyatakan selesai, sementara asap masih sibuk mengurus kehidupan kami. Senyum saja dulu. Nanti kalau batuk, baru ingat: mungkin ini cuma batuk bekas api. 😁 (Fajri Al Mughni, Alumnus Mesir, Pendiri Kalam Literasi Indonesia)

 

 

Tinggalkan Balasan