Oleh: Fajri Al Mughni
Siapa yang paling paham tentang Syiah?
Tentu Syiah itu sendiri, wak.
Bukan kita yang cuma dengar dari potongan ceramah lima menit, lalu merasa sudah jadi mufti WhatsApp.
Kalau hendak tahu isi rumah orang, jangan berdiri di pagar sambil mengintip dari lubang kunci. Masuklah lewat pintu ilmu. Duduk. Baca. Fahami.
Lalu siapa yang paling mengerti Iran?
Presiden sekelas Donald Trump saja pernah keliru membaca peta jiwa bangsa itu.
Disangkanya, bila seorang pimpinan ditumbangkan, maka tamatlah kisah. Seolah-olah Iran itu cuma satu tubuh, bukan satu ghirah bangsa.
Padahal bangsa yang berdiri atas luka sejarah dan ideologi, tidak mudah dipatahkan hanya dengan satu letupan.
Ada pula kabar berseliweran katanya Iran “menyerang” Qatar, Dubai dan entah apa lagi. Setelah dibaca benar-benar, rupanya yang diserang itu pangkalan militer Amerika di wilayah tersebut.
Bukan hendak mengajak negara Arab bertumbuk dada. Tapi begitulah, berita hari ini lebih suka berlari daripada berpikir.
Tentang Syiah.
Mohon maaf wak, sejauh mana pengetahuan kita?
Setebal apa buku yang sudah kita khatam sebelum menghukum?
Al-Azhar University melalui Grand Syaikh Ahmed el-Tayeb pernah menyatakan bahawa Syiah adalah bagian dari Islam.
Dalam pelajaran milal wa nihal dahulu, kita diajar secara garis besar umat Islam itu dua arus besar: Sunni dan Syiah. Selebihnya adalah cabang-cabang yang tumbuh dari perdebatan sejarah dan ijtihad.
Dua arus ini mewarnai romantika literatur Islam berabad-abad lamanya.
Perdebatan ada. Perbedaan ada. Bahkan keras.
Namun tetap bersumber pada Al-Qur’an, hadits, dan disiplin ilmu para ulama.
Adapun hari ini, yang paling riuh justru yang paling jarang membaca.
Dunia kini hanya memandang kesombongan Amerika Serikat dan Israel. Memandang saja.
Tak berani berucap, apalagi berbuat.
Mengapa?
Kerana kelangsungan hidup, kesejahteraan rakyat, bahkan kemegahan istana para pemimpin negeri, tersangkut pada tali dua negara itu. Maka banyak yang memilih aman dalam diam, daripada benar dalam risiko.
Aku tahu, Amerika kuat.
Di atas kertas, segala hitung-hitungan memihak padanya. Senjata cukup. Sekutu ramai. Dana tak habis-habis.
Tetapi sejarah tidak selalu tunduk pada kertas.
Ada hal yang tak bisa dihitung dengan dolar dan rudal: keyakinan, maruah bangsa, dan doa orang yang terdesak.
Dan sebagai penutup, sekadar penguat hati yang tak punya apa-apa selain tawakal:
Hasbunallah wa ni’mal wakil.
Cukuplah Allah menjadi penolong, dan Dia sebaik-baik pelindung.
Fajri Al Mughni
Alumnus Mesir dan Pendiri Kalam Literasi Indonesia












