Ghost in The Cell, Yang Gaib dan Korup Dalam Penjara

SENARAINEWS.COM – Kehidupan di penjara yang menjadi metafora sebuah negara disajikan oleh Sutradara Joko Anwar lewat film Ghost in the Cell. Film yang mulai tayang di bioskop mulai Kamis (16/4/2026) itu ternyata skenarionya ditulisnya sejak 2018.

Cerita berpusat pada kehidupan di sebuah penjara. Joko Anwar menggambarkan dengan gamblang ketimpangan perlakuan yang diterima para narapaidana. Sipir memperlakukan para tahanan secara subjektif.

Penonton melihat perbedaan tajam antara Blok C dan Blok K. Narapidana kaya seperti Prakasa (Arswendi Bening Swara) mendapatkan fasilitas mewah dan kebebasan untuk keluar-masuk kapan saja. Sebaliknya narapidana di Blok C tak bisa ke mana-mana saat ancaman pembunuhan mengintai.

Jangan Lewatkan :  Tiga ABK Indonesia Hilang di Selat Hormuz

Joko Anwar menjadikan penjara ini sebagai metafora untuk kondisi negara. Para narapidana mewakili warga negara yang terjebak di dalam sistem.

Mengutip CNNIndonesia.com, Ghost in the Cell menampilkan kisah Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang dijebak atas kasus pembunuhan brutal terhadap atasannya. Di sel, Dimas terjebak dalam ekosistem penjara yang korup, di mana para sipir menyalahgunakan kekuasaan dan hierarki narapidana memaksa yang lemah menjadi mangsa.

Namun, suasana semakin mencekam sejak kedatangan Dimas. Satu per satu tahanan tewas secara misterius dan brutal.

Jangan Lewatkan :  Radja Nainggolan Ditangkap,Kuasa Hukum Bantah Terlibat Perdagangan Narkoba

Penyelidikan yang dilakukan Anggoro (Abimana Aryasatya) bersama rekan-rekan tahanan lainnya mengungkap kenyataan mengerikan. Entitas gaib tengah meneror lapas, mengincar siapa pun yang menyimpan energi negatif dan amarah.

Demi bertahan hidup, para narapidana kini terpaksa melakukan hal yang sulit di balik jeruji, yaitu berlomba-lomba berbuat kebaikan demi menghindari incaran sang hantu.

Namun, di tengah intrik penjara yang busuk, menjaga moral ternyata tak semudah itu. Apalagi, terungkap bahwa teror ini bukan sekadar mistis, melainkan berkaitan erat dengan kasus korupsi besar di Kalimantan yang sempat diliput Dimas.

Jangan Lewatkan :  Kasus Dugaan Pemalsuan Surat Pengunduran Diri ASN Pemprov Jambi Berlanjut

Kini, mereka harus bersatu melawan dua ancaman sekaligus, penindasan manusia dan teror tak kasat mata.

Film berdurasi 106 menit ini diproduksi Come and See Pictures dengan Joko Anwar sebagai penulis naskah dan sutradara. Selain itu, Tia Hasibuan duduk di kursi produser.

Ghost in the Cell menampilkan jajaran aktor papan atas Indonesia, seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Aming, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Kiki Narendra.

Tinggalkan Balasan