Oleh: Fajri Al Mughni
Kadang aku heran melihat cara sebagian orang berkhayal tentang politik dunia.
Indonesia melalui Prabowo Subianto sebenarnya sudah cukup sibuk mengurus dapur sendiri.
Gibran Rakabuming Raka biarlah begitu. Dikritisi juga dia anteng bae. Paling senyum-senyum.
Realistis lah, wak. Kau berharap apa?
Berharap Prabowo tiba-tiba berdiri di tengah meja perundingan lalu berkata kepada Amerika Serikat, Israel, dan Iran:
“Sudah, jangan berkelahi lagi. Mari berdamai.”
Kalau konflik Timur Tengah bisa selesai dengan pidato negara berkembang (enaknya dibahasakan begitu), dari dulu sudah selesai.
Perang isu MBG saja negeri ini ngos-ngosan.
Anggarannya katanya untuk rakyat, tapi yang gemuk justru yang sudah gemuk dari awal.
Yang miskin tetap belajar sabar. Yang kaya belajar mempertebal rekening.
Urusan domestik yang begitu saja belum selesai, tapi kita sudah siap mengangkat bendera kepahlawanan global.
Seolah-olah geopolitik dunia itu seperti rapat RT: cukup ketuk meja tiga kali, lalu semua damai.
Belum lagi kalau menoleh sedikit ke dalam negeri.
Satu negeri ini seperti panggung komedi yang lupa mematikan mikrofon.
Rudy Mas’ud sedang viral ingin mobil mahal.
Dedi Mulyadi sibuk keliling.
Di tempat lain, bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, konon hendak membuat konser di lapas, entah untuk menghibur napi atau menghibur headline berita.
Sementara itu Nadiem Makarim sedang mencipta lagu baru di ruang persidangan.
Mungkin judulnya: “Nada-Nada dari Bangku Terdakwa.”
Belum lagi oknum polisi yang sibuk menterjemahkan makna kata oknum.
Lucunya, kata itu makin sering dipakai, tapi orangnya jarang sekali benar-benar ditemukan.
Dan di tengah semua panggung domestik itu, kita masih sempat-sempatnya berangan-angan ingin menyelesaikan konflik global.
Lalu muncullah para mujahid keyboard. Dengan dada membusung mereka berkata:
“Indonesia harus berani melawan Amerika dan Israel. Kami siap menjadi syahid!”
Pelan dulu, wak. Aku bukan menertawakan semangatmu.
Semangat itu bagus. Tapi kalau semangat tidak ditemani akal, hasilnya biasanya cuma status medsos yang heroik.
Coba ingat sebentar masa pandemi COVID-19.
Baru digempur virus saja negeri ini sudah terkapar macam ayam kena hujan.
Warung tutup, kerjaan hilang, dapur tak berasap. Banyak orang yang akhirnya live di TikTok demi recehan koin digital.
Padahal kemarin-kemarin ceramahnya paling lantang mengharamkan aplikasi itu.
Begitulah hidup: ketika perut lapar, fatwa sering berubah jadi fleksibel.
Realitas di kampungku sederhana saja. Orang tidak sedang memikirkan strategi menghadapi Amerika.
Mereka cuma ingin padinya laku di pasar. Mereka cuma berharap kebun karetnya tidak terbengkalai.
Mereka cuma tidak sanggup melihat anak cucunya makan mi instan tiga kali sehari sambil disebut “latihan hidup sederhana”.
Dan jujur saja wak, mental kita memang belum tentu sekuat orang di Gaza Strip.
Rakyat Palestina sudah terlalu lama hidup dalam deru konflik.
Mereka bisa bertahan dengan apa saja: debu jadi lauk, embun jadi minuman.
Sementara di negeri ini, harga cabai naik sedikit saja sudah terasa seperti kiamat.
Di Iran, rakyatnya bahkan lama mendapat subsidi uang tunai tiap bulan. Belum lagi subsidi lain yang menopang hidup mereka.
Di sini? Subsidi minyak dikurangi sedikit saja, seluruh negeri mendadak seperti baru kehilangan pusaka leluhur.
Jadi sebelum kita berteriak ingin menyelamatkan Timur Tengah, mungkin ada baiknya kita menengok dapur sendiri dulu.
Pastikan beras masih ada di lumbung.
Pastikan petani masih bisa menanam.
Pastikan rakyat tidak sibuk mencari sinyal Wi-Fi gratis hanya untuk menjual kesedihan di TikTok.
Karena dalam politik dunia, keberanian tanpa kemampuan itu bukan heroisme.
Itu biasanya cuma ilusi yang terlalu sering dibagikan ulang.
Terakhir, sanggupkah kau makan sahur dengan buah saja seperti anjuran dokter?
Aku tak sanggup.
*Fajri Al Mughni, Pendiri Kalam Literasi









