Salat Istisqo dan Aliran Ngopiyah

Wak, aku nak ngomong dikit soal perkara yang dari dulu membuat kepala orang-orang berilmu berasap: mano perbuatan Tuhan, mano perbuatan manusia.

 

Kali ini gara-garanya sederhana saja: hujan. Lebih tepatnyo, manusia minta hujan dengan salat istisqa.

 

Bayangkan, Wak. Manusia berdiri di tanah yang kering, rumput sudah menguning, parit tinggal lumpur, panas bukan main badengkang. Lalu orang-orang berkumpul, menghadap langit, menengadahkan tangan, dan berkata dalam doa: “Ya Allah, turunkanlah hujan.”

 

Nah.

Di sinilah perkara mulai panjang.

Aku jadi teringat orang-orang Jabariyah.

 

Kalau orang Jabariyah duduk di samping kita waktu itu, mungkin sambil mengipas-ngipas muka karena panas sambil berkata;

 

“Wak, manusia ni cuma wayang dalam pentas semesta. Dalangnya Tuhan. Wayang bergerak ke kiri, ke kanan, jatuh, tegak, menangis, tertawa, semuanya karena Sang Dalang. Jangan pula wayang merasa hebat gara-gara tangannya bergerak.”

 

Kira-kira begitulah.

 

Bagi Jabariyah yang ekstrem, kehendak manusia itu nyaris dak ado apo-aponyo. Segala sesuatu mutlak dalam kehendak Tuhan. Jadi, kalau kemarin kau ikut salat istisqa, lalu malamnyo hujan turun lebat sampai selokan depan rumah meluap, jangan cepat-cepat kau tepuk dada.

 

Jangan pulak besok pagi di warung kopi kau bilang,

“Ha, Nampak kau? Kemarin kami salat istisqa. Malamnyo langsung hujan.”

 

Pelan-pelan, Wak.

Kalau orang Jabariyah dengar kau ngomong begitu, mungkin kopinya diletakkan pelan-pelan di meja. Lalu becakap; “Hujan tu turun karena kehendak Tuhan bang. Jangan kau sibuk nian merasa punya andil.”

Tapi sabar dulu.

 

Aku ni cuma sedang bercerita tentang Jabariyah. Bukan berarti aku pengikutnyo.

Aku punyo aliran sendiri. Namonyo Ngopiyah.

 

Pengikut Ngopiyah punya satu keyakinan sederhana: kalau pagi dak ngopi, banyak urusan dunia yang sulit dijamin keselamatannyo.

 

Nama Ngopiyah memang terdengar agak dekat dengan Jahmiyah, yang sering dibicarakan berdekatan dengan Jabariyah. Bahkan itulah Jabariyah.

Jangan Lewatkan :  Dunia Sedang Mempersiapkan Kedigdayaan, Aku Sibuk Menyiapkan Kue Lebaran

 

Tapi prinsip kami jauh berbeda.

 

Kalau Jabariyah menyerahkan segala perkara kepada kehendak Tuhan, orang-orang Ngopiyah menyerahkan nasib pagi mereka kepada barista. Kalau baristanyo bagus, dunia terasa masih punya harapan.

 

Kalau kopinya gosong, susu kebanyakan, gulonyo buat kopi macam kolak, atau espresso-nya encer macam air Sungai Batanghari waktu pasang, rusaklah pandangan hidup sampai zuhur.

 

Itulah bahaya aliran kami.

 

Tapi kembali ke hujan.

Kalau kau termasuk orang yang kemarin ikut salat istisqa, lalu hujan turun, jangan pula terlampau bangga atas ikhtiarmu.

 

Hati-hati, Wak.

Jangan sampai belum selesai air hujan turun dari genteng, kau sudah berubah jadi Qadariyah garis keras. “Ini karena usaha kito!”

 

Nah.

Orang Qadariyah dahulu menekankan kemampuan dan kehendak manusia dalam tindakannya. Manusia bukan sekadar boneka. Ada pilihan, ada kehendak, ada tanggung jawab.

 

Sampai di sini mulai pening, kan?

Bagus. Berarti otak masih hidup.

 

Tapi jangan pula baru membaca tiga paragraf tentang Jabariyah dan Qadariyah, kau langsung mengirim pesan kepadaku: “Sesat kau ni.”

 

Sabar dulu.

Kopi aku baru dibuat.

 

Kalau baru mendengar istilah Jabariyah dan Qadariyah saja urat leher sudah keluar, mungkin masalah kita bukan lagi hujan. Mungkin kita memang perlu berkenalan dengan satu cabang ilmu yang dahulu membuat ulama-ulama besar berdebat sampai tujuh hari tujuh malam: Ilmu Kalam.

 

Kalau sekarang kau bingung hendak berdiri di mano, Jabariyah atau Qadariyah, cubo masuk sebentar ke pembicaraan orang-orang Asy‘ariyah.

 

Mereka tidak menerima manusia sebagai makhluk yang sepenuhnya dipaksa seperti gambaran Jabariyah ekstrem. Tapi mereka juga tidak menerima gagasan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara mandiri seperti yang dinisbatkan kepada Qadariyah.

Jangan Lewatkan :  Proyek Naturalisasi Berlanjut, John Herdman Incar 2 Pemain Eropa untuk Timnas Indonesia

 

Di sinilah muncul perkara yang namonyo kasb.

Bahasanya memang pendek.

Jelasinnyo bisa kayak ngabisin kopi americano satu teko.

 

Kurang lebih begini, Wak. Kau punya kehendak. Kau memilih. Kau berniat. Kau berusaha. Karena itulah kau tetap bertanggung jawab atas perbuatanmu. Tetapi kemampuan, kejadian, dan terwujudnya tindakan itu tetap berada dalam kekuasaan Tuhan.

 

Jadi dalam perkara istisqa, manusia tetap berikhtiar.

Orang membuat pengumuman: “Besok kito salat istisqa.”

 

Panitia mulai sibuk.

Cari tempat.

Hubungi orang.

Susun saf.

Cari imam.

 

Kalau bisa, cari imam yang wajahnyo teduh nian sampai baru nengok mukonyo bae dosa panitia terasa berkurang separuh.

 

Orang datang beramai-ramai. Bawa sajadah. Salat. Istighfar. Berdoa. Menengadahkan tangan. Memohon hujan.

 

Semua itu adalah pilihan dan ikhtiar yang sungguh-sungguh dilakukan manusia. Dalam bahasa Asy‘ariyah, manusia mempunyai kasb atas perbuatannya dan karena itulah manusia tetap memikul tanggung jawab.

 

Tapi apakah sesudah itu awan wajib berkumpul?

Dak.

Apakah langit harus menghitam?

Dak jugo.

Apakah karena seribu orang sudah menengadahkan tangan maka Tuhan terikat kontrak untuk menurunkan hujan sebelum magrib?

Apolagi itu. Idak nian.

 

Di situlah batas manusia kelihatan terang nian. Manusia bisa mengetuk pintu. Tapi manusia dak punyo kuaso memaksa pintu itu terbuka.

 

Manusia bisa berdoa. Tapi terkabulnya doa bukan prestasi manusia.

Manusia bisa berikhtiar. Tapi hasil akhir bukan miliknya.

 

Kau boleh menyusun acara istisqa dengan buat spanduk bagus, sound system jernih, imamnyo fasih, jamaahnyo seribu orang, dokumentasinyo bahkan pakai drone.

 

Tapi satu tetes air pun dak akan jatuh kecuali Tuhan menghendakinya.

 

Sebaliknyo, kalau hujan benar-benar turun, jangan pula kau anggap itu gara-gara kau. Sebab berdoa itu sendiri adalah perbuatan yang diperintahkan. Jadi bukan soal memilih antara: “Semua karena Tuhan, manusia dak perlu berbuat apo-apo,” atau: “Semua karena usaha manusia.”

Jangan Lewatkan :  KDT: Rumah Umat di Tepian Kumpeh

 

Di situlah pertemuan yang menarik antara kehendak manusia sebagai makhluk dengan kehendak Tuhan sebagai Pencipta.

 

Manusia berusaha.

Tuhan menentukan.

Manusia memilih.

Tuhan menciptakan terjadinya.

Manusia mengetuk pintu.

 

Tuhan menentukan apakah pintu dibuka sekarang, besok, atau justru tidak dibuka karena ada sesuatu yang tidak diketahui si pengetuk.

 

Cemano, Wak?

Dak terlalu berat, kan?

 

Kalau agak berat, jangan khawatir.

 

Dulu para cendekiawan kadang dianggap hebat kalau tulisannya membuat orang mengernyitkan dahi tiga kali untuk memahami satu kalimat. Semakin susah dipahami, semakin nampak dalam ilmunyo.

Zaman sekarang agak berbeda.

 

Orang hebat justru orang yang mampu membawa gagasan rumit turun dari menara, lalu mendudukkannya di bangku kayu warung kopi supaya orang biasa pun bisa ikut bercakap-cakap dengannya.

Dan percayalah, Wak. Itu jauh lebih susah.

 

Membuat sesuatu menjadi rumit, gampang.

Membuat perkara rumit menjadi sederhana tanpa membuatnya salah, nah, itu baru ilmu.

 

Jadi kalau setelah membaca sampai sini kepalamu masih agak berasap, jangan buru-buru pindah ke Jabariyah. Jangan pulak masuk Qadariyah.

 

Kau kenalan dulu dengan aliran Ngopiyah.

Markasnyo di Kalam Literasi Indonesia.

 

Syarat masuknyo dak banyak. Dak perlu baiat. Dak perlu kitab berjilid-jilid.

Cukup duduk.

 

Pesan kopi. Dak usah bayar.

 

Lalu kito ngobrol lagi tentang Tuhan, manusia, hujan, dan betapa kecilnya kita di bawah langit yang luas.

Sebab kadang-kadang, Wak, percakapan paling serius tentang kehidupan memang lebih mudah dimulai dari secangkir kopi di Kalam Literasi. (Fajri Al Mughni, alumnus Al Azhar, pendiri Kalam Literasi Indonesia)

 

Tinggalkan Balasan