IKAPPA: Cara Santri Pulang Ke Pondok dengan Cara Berbeda

IKAPPA: Cara Santri Pulang Ke Pondok dengan Cara Berbed

Oleh: Fajri Al Mughni

Di Kota Jambi, ada sebuah rumah besar. Bukan rumah dengan pagar tinggi dan lampu kristal mahal. Rumah ini lebih tua dari banyak gedung megah yang dibangun dengan cara kucing-kucingan.

Namanya Pondok Pesantren As’ad. Rumah ini tidak dibangun dari semen semata, tapi dari doa, kitab kuning, kopi malam para santri, dan kesabaran para guru yang kadang mengajar dengan lampu seadanya tapi dengan hati yang terang benderang.

Di dalam rumah besar itu, hiduplah keluarga besar. Anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit pemikiran. Mereka belajar, jatuh, bangun, lalu pergi merantau.

Ada yang jadi guru, ada yang jadi pejabat, ada yang jadi ustaz, ada pula yang jadi orang biasa yang diam-diam menjaga nilai yang dulu ditanam di ruang-ruang pengajian.

Begitulah adat keluarga besar: suatu hari anak-anaknya akan keluar rumah. Bukan karena durhaka, tapi karena hidup memang menuntut perjalanan.

Jangan Lewatkan :  Dewi Soekarno, Istri Keenam Bung Karno yang Melepas Status WNI

Ada anak dari rumah besar As’ad yang kini sudah berkeluarga sendiri. Namanya agak panjang, seperti nama organisasi yang dibuat dengan penuh keseriusan rapat: IKAPPA — Ikatan Alumni Pondok Pesantren As’ad.

Awalnya mungkin cuma tempat berkumpul. Biasanya kalau alumni berkumpul, yang dibahas itu dua hal:kenangan masa lalu dan rencana yang sering berhenti di meja makan. Tapi yang ini agak beda.

IKAPPA pelan-pelan berubah menjadi rumah besar kedua.

Rumah yang dihuni oleh orang-orang yang pernah tidur di bilik pesantren yang sama, pernah dimarahi guru yang sama, pernah menghafal kitab yang sama, dan pernah merasa lapar yang sama. Ikatan seperti itu biasanya lebih kuat dari sekadar kartu anggota organisasi.

Para penghuninya sudah menyebar ke mana-mana. Ada yang di luar negeri, Ada di kota besar, ada di desa, ada yang duduk di kantor, ada yang masih setia di mimbar. Tapi anehnya, mereka tetap seperti tinggal di satu rumah bernama IKAPPA.

Jangan Lewatkan :  Ratusan Kader HMI Demonstrasi di Kampus UIN STS Jambi, Rektor Minta Tunggu Proses Hukum

Semacam diaspora santri, tapi tidak kehilangan alamat pulang.

Dan malam ini, 7 Maret 2026, mereka berkumpul.

Bukan sekadar reuni yang penuh foto dan nostalgia. Bukan pula rapat yang sibuk menyusun struktur organisasi sepanjang tiga halaman, yang biasanya lebih panjang daripada program kerjanya.

Tidak.

Mereka berkumpul untuk merumuskan tugas baru. Tugas yang sebenarnya sederhana, tapi selalu terasa berat dalam praktik: membuat rumah besar As’ad lebih bersaing dan maju.

Bukan menjadikannya istana megah yang sibuk memamerkan marmer dan menara. Pesantren tidak butuh itu. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang lebih mahal dari beton: kualitas pendidikan.

Rumah itu tidak harus megah. Cukup elegan dalam ilmu. Cukup istimewa dalam akhlak.

Karena sejarah menunjukkan satu hal: banyak lembaga besar runtuh bukan karena kekurangan gedung, tapi karena kekurangan gagasan.

Dan di rumah kedua bernama IKAPPA ini, kepala rumah tangganya bukan orang sembarangan.

Jangan Lewatkan :  Sarolangun Festival Meriah, Bupati dan Wabup Ikuti Parade Batik

Namanya Prof. Dr. H. Kasful Anwar, US., M.Pd.

Ia seorang profesor. Ia juga santri yang tahu bau kitab tua. Ia cendekiawan yang akrab dengan dunia akademik.

Ia tokoh yang suaranya didengar. Ia ulama yang ilmunya menjadi rujukan.

Dan yang paling penting, bagi banyak orang, ia juga sahabat.

Sebab dalam keluarga besar seperti ini, jabatan bukan yang paling menentukan. Yang menentukan adalah apakah seseorang masih bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan para santri yang dulu sama-sama belajar mengeja kitab.

Begitulah kisahnya wak.

Rumah besar As’ad tetap berdiri.

Anak-anaknya kini punya rumah kedua bernama IKAPPA.

Dan jika malam ini mereka benar-benar serius merancang perubahan, mungkin suatu hari nanti orang akan berkata: bukan gedung pesantrennya yang besar, tapi pikiran para alumninya yang membuatnya terus hidup.

*Fajri Al Mughni, Pendiri Kalam Litetasi Indonesia