Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Ada orang yang hidup sekadar menambah usia. Ada pula yang hidup dengan menambah makna. Pak Kemas Arsyad Somad adalah nama yang termasuk dalam golongan kedua.
Di keluarga, mereka memanggilnya Pak Udo. Sebuah panggilan yang hangat, sebagaimana hatinya yang selalu menyediakan ruang bagi siapa saja.
Di balik kewibawaannya sebagai akademisi, tersimpan pribadi yang lembut; di balik ketegasannya sebagai pemimpin, tumbuh kasih yang tak pandang bulu.
Ia ramah tanpa kehilangan wibawa, bijak tanpa meninggalkan keberanian, tegas tanpa menghilangkan kemanusiaan.
Tanah Melayu Jambi mengenalnya bukan hanya sebagai seorang guru besar kehidupan, tetapi juga sebagai sosok yang meletakkan batu-batu awal bagi kemajuan pendidikan.
Dari tangannya lahir ikhtiar mendirikan Fakultas Kedokteran Universitas Jambi.
Amanah sebagai Rektor Universitas Jambi selama dua periode dijalaninya dengan kesungguhan, seolah ilmu adalah cahaya yang tak boleh padam di negeri ini.
Sebagai pakar hukum, ia mengajarkan bahwa keadilan bukan sekadar pasal-pasal, melainkan nurani yang harus tetap menyala.
Jejaknya tidak berhenti di ruang kuliah. Langkahnya juga menembus ruang-ruang pengabdian, menghadirkan keteladanan dalam dunia politik dengan kewibawaan yang tak dibangun oleh suara yang keras, melainkan oleh integritas yang kukuh.
Ia membuktikan bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan pengabdian adalah warisan.
Orang-orang besar sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hanya berpindah dari pandangan mata menuju ingatan yang tak selesai diceritakan.
Seperti kata para arif, kematian bukanlah padamnya pelita, melainkan fajar yang membuat cahaya lilin tak lagi diperlukan.
Barangkali itulah sebabnya orang-orang baik selalu meninggalkan sunyi yang begitu dalam ketika berpulang.
Hari ini, 6 Juli 2026, langit Jambi terasa lebih muram. Hujan deras mengguyur tanah Jambi.
Angin yang melintas di tepian Batanghari seakan membawa kabar duka dari rumah ke rumah. Bumi Melayu kehilangan seorang putra terbaiknya.
Namun, kehilangan ini bukan alasan untuk berhenti melangkah. Sebab setiap karya yang beliau tinggalkan adalah amanah yang kini berpindah ke pundak generasi berikutnya.
Selamat jalan, Baba, selamat jalan Pak Udo. Selamat jalan sang penggerak.
Terima kasih atas ilmu yang telah ditanam, atas keteladanan yang telah diwariskan, atas keberanian yang telah ditunjukkan, dan atas kasih yang telah dibagikan.
Semoga Allah melapangkan alam kubur beliau, menerima segala amal baktinya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik bersama orang-orang yang saleh.
Bumi Melayu Jambi bersaksi: seorang anak terbaiknya telah pulang.
Namun namamu akan tetap hidup, selama ilmu masih diajarkan, selama kampus masih melahirkan harapan, dan selama generasi Jambi terus melanjutkan pekerjaan yang pernah engkau mulai. (Fajri Al Mughni, pendiri Kalam Literasi Indonesia, penulis buku KEMAS ARSYAD SOMAD Kisah Inspiratif Masa Kecil Dr. H. Kemas Arsyad Somad, M.H dalam Menimba Ilmu dan Pengalaman)








