Oleh: Fajri Al Mughni
Jumat malam, 19 Juni 2026, ketika langit Jambi menggantungkan bintang-bintang di atas aliran Batanghari yang tenang, Pondok Pesantren yang tergabung dalam WMI mengutus perwakilannya menghadiri rapat pembahasan AD/ART organisasi Persatuan Pesantren Jambi, Wihdah Al Ma’ahid Al Islamiyah (WMI) di Ponpes Kumpeh Daarutauhid.
Dalam WMI, ada 17 Pondok Pesantren dengan Ruh Melayu Jambi, bersatu.
Pertemuan itu bukan sekadar membicarakan pasal demi pasal atau menyusun aturan demi aturan.
Di balik lembaran-lembaran administrasi itu, tersimpan sebuah cita-cita besar:
Yaitu menyatukan langkah pesantren-pesantren Melayu Jambi dalam melanjutkan akselerasi dakwah kenabian melalui ruh dan jati diri Melayu yang telah lama mengakar di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
Sejarah mencatat, Melayu Jambi bukanlah bangsa yang asing bagi Islam. Dari tepian sungai hingga ke pedalaman, para ulama, datuk, dan guru-guru tua dahulu menjadikan Melayu sebagai jalan dakwah yang santun namun berwibawa.
Islam tumbuh dalam bahasa Melayu, bernafas dalam adat Melayu, dan bersemayam dalam hati masyarakat Melayu.
Pada masa yang sama, negeri Melayu Jambi juga berdiri teguh sebagai benteng yang menghadang upaya penjajahan Belanda untuk menaklukkan marwah negeri dan keyakinan rakyatnya.
Karena itulah, Melayu tidak boleh dipahami hanya sebagai warisan pakaian adat, gelar kebangsawanan, atau seremoni budaya semata.
Melayu adalah ruh. Melayu adalah adab. Melayu adalah cara menjaga agama agar tetap hidup dalam denyut kehidupan masyarakat.
Hari ini, ketika zaman bergerak begitu cepat dan arus perubahan datang silih berganti, tugas mempertahankan kejayaan Islam tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah.
Ia harus diteruskan dengan pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi. Di sinilah pesantren mengambil peran penting sebagai benteng akidah sekaligus penjaga identitas.
Pesantren-pesantren yang berhimpun dalam WMI adalah mata rantai yang menyambung warisan para ulama Melayu terdahulu.
Mereka memikul amanah untuk menjaga cahaya ilmu agar tetap menyala, menjaga adab agar tetap bersemi, dan menjaga Islam agar tetap menjadi nafas kehidupan masyarakat Jambi.
Sebab sejarah telah mengajarkan satu perkara: ketika Islam dan Melayu berjalan beriringan, negeri ini memiliki arah, memiliki marwah, dan memiliki kekuatan.
Maka, menyatukan pesantren-pesantren Melayu bukan sekadar membangun organisasi, melainkan membangun kembali kesadaran tentang siapa kita dan warisan apa yang harus kita jaga.
Dan selama azan masih berkumandang dari surau-surau tua, selama kitab-kitab masih dibaca di sudut pesantren, serta selama anak-anak Melayu masih diajarkan mencintai agama dan negerinya, maka Islam dan Melayu akan tetap berdiri bersama.
kembali dengan marwahnya, menjaga Jambi, menjaga umat, dan menjaga negeri.
Tak kan Melayu Hilang di Bumi.
*Penulis adalah alumnus Mesir







