Oleh: Fajri Al Mughni
Ada satu kabar yang layak diumumkan dengan sirene global. Macam sirene Israel ketika rudal Iran menyerang.
Sirene itu untuk mengabarkan bahwa TikTok sudah sampai ke pelosok desa. Bahkan bukan sekadar sampai, tapi menetap, beranak pinak, dan tampaknya sudah menjadi semacam “menteri budaya” tanpa pelantikan resmi.
Keberhasilannya luar biasa. Dalam waktu singkat, manusia menemukan bakat terpendam yang sebelumnya tidak tercatat dalam rapor: berjoget.
Dan menariknya, ini adalah bahasa paling universal. Tidak perlu teori, tidak perlu literatur. Cukup kamera depan, musik 15 detik, dan sedikit keberanian menukar rasa malu dengan jumlah views.
Yang lebih mengesankan, joget ini lintas kasta. Lintas strata. Dulu kita mengenal stratifikasi sosial. Sekarang, stratifikasi itu runtuh di hadapan kamera depan
Guru TK joget, penuh keceriaan.
Guru SD joget, mulai ada improvisasi.
Guru SMP joget, makin percaya diri.
Guru SMA joget, sudah lincah dan terstruktur.
Bahkan dosen pun ikut, dengan gaya yang seolah-olah punya landasan metodologis, mungkin bisa segera diajukan ke jurnal bereputasi: “Pengaruh Goyangan Terhadap Peningkatan Engagement Mahasiswa.”
Lalu murid-murid melihat. Mereka belajar. Bukan dari buku, tapi dari algoritma. Pesan yang tersampaikan sangat jernih, tanpa perlu penjelasan panjang:
Bahwa “Joget di TikTok itu normal.”
Beberapa langkah berikutnya, makna itu naik level: “Joget di TikTok itu penting.”
Dan tanpa terasa, mungkin suatu hari nanti: “Joget di TikTok itu bagian dari kompetensi dasar.” Wajib masuk dalam RPS RPP.
Saya paham, ini bukan soal benar atau salah. Saya juga bukan penjaga moral yang siap mengeluarkan fatwa haram. Bahkan jujur saja, kadang saya ikut menikmati, melihat bapak ibu guru berjoget dengan penuh semangat, ada sisi hangatnya. Ada sisi manusiawinya.
Tapi tetap saja, ada sesuatu yang bergeser pelan-pelan.
Dulu, ruang publik itu tempat orang menyimpan sebagian dirinya. Ada batas, ada rem, ada rasa sungkan yang dijaga seperti barang berharga. Senyum pun dulu ditutup tangan, bukan karena tidak bahagia, tapi karena tahu bahwa tidak semua hal perlu diumbar.
Sekarang?
Orang melenting-lenting di depan kamera seperti ulat bulu kena tiup, dan itu dianggap biasa. Bahkan wajar. Bahkan diapresiasi.
Dan, di tengah semua itu, justru yang merasa canggung adalah mereka yang masih mencoba menahan diri.
Mungkin ini memang bukan krisis. Mungkin ini hanya evolusi.
Atau mungkin kita sedang pelan-pelan mengubah definisi “pantas” menjadi sekadar “viral.”
Aku tak menyinggung guru seni. Aku rasa, guru seni wajib melanjutkan hal semacam ini. Ia mengajar murid menari, bernyanyi dan berakting. Jurusannya memang begitu.
Ini hanya soal kepantasan wak. Yaa, sebenarnya aku tak punya hak mengkritik ini. Karena jawabannya mudah. “kebebasan berekspresi”. Sah sah saja sih. Hanya saja, kok aku masih malu ya. Kampungan sekali aku ini. Haha
Aku cuma kaget, tiktok benar-benar bekerja dengan cepat. Dakwahnya ampuh. Metodenya jitu. Menyentuh rasa tabu menjadi lumrah.
Guru ngaji di kampungku harus punya akun tiktok. Biar lampu redup di rumahnya diketahui oleh semua orang. Al-quran lusuhnya harus viral. Lelahnya mengajar murid “bebal” harus go public. Caranya mengajar tajwid wajib ditonton.
Sekarang, budak-budak di kampung sudah banyak yang tak bisa manjat. Main semak dikit, alergi. Main hujan sebentar, demam. Mangga kampung terasa masam. Dulu, manis. Makan tebu pakai gigi langsung sudah tak mau.
*Pendiri Kalam Literasi Indonesia













