Karhutla Merajalela, Bang Sarwan Pasang Badan

Kanti…
Di negeri Melayu Jambi ko, ado perkara yang tak boleh dianggap angin lalu. Ado persoalan yang tak cukup diselesaikan dengan kato-kato manis, apolagi sekadar duduk bersilang kaki, mengangguk-angguk, lalu pulang seolah tak terjadi apo-apo.

Namonyo kebakaran hutan dan lahan. Orang kini menyebutnyo Karhutla.

Asapnyo mungkin tampak ringan melayang di langit, tapi deritanyo berat menimpa dada rakyat. Ia masuk ke rumah-rumah, menyelinap ke ruang sekolah, mengganggu napas anak-anak, bahkan membuat langit Jambi yang elok berubah muram.

Kanti, kalau sudah ratusan anak dikabarkan terserang ISPA akut, ini bukan lagi sekadar urusan hutan yang terbakar. Ini sudah menyangkut keselamatan anak cucu negeri.

Dan di tengah kegelisahan itulah, DPRD Provinsi Jambi menghadirkan Panitia Khusus Kebakaran Hutan dan Lahan, atau Pansus Karhutla.

Di antara mereka yang menyatakan dukungan penuh, berdirilah Bang Achmad Sarwani, anggota DPRD Provinsi Jambi dari Partai Gerindra. Orang mengenalnyo Bang Sarwan.

Jangan Lewatkan :  Kalau Jambi Gabung Dewan Perdamaian Dunia-Trump

Nah, Bang Sarwan ko tampaknyo bukan hendak jadi penonton di pinggir gelanggang. Ia menyatakan siap berdiri di barisan paling depan, mengawal kerja Pansus Karhutla sampai persoalan ini benar-benar mendapat perhatian yang semestinya.

Kalau dibayangkan dalam cerita koboi dari tanah Meksiko, Bang Sarwan ni macam koboi yang datang membantu sheriff menggagalkan transaksi narkoba para mafia. Bukan karena hendak mencari nama, tetapi karena ado kejahatan yang tak boleh dibiarkan merajalela.

Bedanyo, gelanggang Bang Sarwan bukan padang pasir Meksiko. Tak ada derap kuda, tak ada pistol di pinggang, dan tak ada duel di bawah matahari senja.

Gelanggangnyo adalah tanah Jambi. Senjatonyo adalah keberanian bersuara, ketegasan mengawasi, dan kewenangan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Dalam pandangannyo, Karhutla adalah persoalan serius. Tak boleh dianggap rutinitas tahunan yang datang bersama kemarau, lalu dilupakan begitu hujan turun. Sebab hujan boleh menghapus asap dari langit, tetapi belum tentu menghapus penderitaan dari ingatan orang tua yang menyaksikan anaknyo sesak bernapas.

Jangan Lewatkan :  HBA Masih Berbahaya, Wak

“Karhutla ini persoalan serius. Tak boleh dibiarkan, tak boleh abai.”

Kanti…
Orang Melayu Jambi punyo petuah, adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Di dalamnyo hidup nilai tanggung jawab, amanah, dan kewajiban menjaga kemaslahatan orang banyak.

Maka, ketika hutan terbakar dan rakyat menanggung akibatnyo, yang diperlukan bukan sekadar mencari siapa paling pandai menjelaskan keadaan. Yang diperlukan adalah keberanian menelusuri akar persoalan, menegakkan tanggung jawab, dan memastikan tragedi serupa tidak terus berulang.

Pansus Karhutla tentu bukan panggung koboi. Ia adalah ruang kerja politik dan pengawasan yang mesti dijalankan dengan sungguh-sungguh, berdasarkan fakta, aturan, anggaran dan keberpihakan pada keselamatan masyarakat.

Dukungan Bang Sarwan menjadi berarti apabila ketegasan itu terus dijaga, dari awal pembahasan hingga rekomendasi dan tindak lanjutnya. Sebab rakyat tidak hanya menunggu suara lantang. Rakyat menunggu kerja nyata.

Jangan Lewatkan :  Hari Pendidikan: Dirayakan dalam Kesunyian yang Sistematis

Dan kanti, dalam negeri yang beradat, keberanian bukan diukur dari seberapa keras orang berbicara, melainkan seberapa teguh ia memegang amanah.

Hutan Jambi bukan sekadar tegakan kayu. Ia adalah warisan negeri, tempat kehidupan bertaut, dan titipan bagi anak cucu yang belum lahir.

Jangan sampai kelak anak-anak kita hanya mengenal hijaunya rimba dari cerita orang tua, sementara yang mereka warisi hanyalah tanah hangus dan ingatan tentang langit yang pernah dipenuhi asap.

Maka, kalau Bang Sarwan hendak berdiri paling depan mengawal Pansus Karhutla, itulah ikhtiar yang patut diuji melalui kerja dan hasilnya. Karena di tanah Melayu Jambi, orang yang memegang amanah bukan sekadar ditunggu katanya, tetapi dinanti buktinya.

Asap boleh berlalu, kanti. Tapi tanggung jawab jangan ikut menghilang bersama angin. (Fajri Al Mughni, pendiri Kalam Literasi Indonesia)

 

Tinggalkan Balasan