SENARAINEWS.COM – Harga terbaru kelapa sawit Provinsi Jambi telah ditetapkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jambi pada Rabu (24/12) lalu. Dinas Perkebunan bersama pihak terkait menetapkan harga TBS sawit ini untuk dua periode sekaligus. Yakni periode 26 Desember – 1 Januari 2026 dan periode 2-8 Januari 2026.
Adapun harga TBS kelapa sawit untuk dua periode tersebut sama alias tidak berubah. Nah dibanding periode sebelumnya, harga kelapa sawit Provinsi Jambi ini kembali turun.
Berkaca dari harga periode sebelumnya, harga sawit umur 10-20 tahun turun sebesar Rp 31,69. Dari harga Rp 3.438,36 turun menjadi Rp 3.406,67 per kg TBS.
Berikut harga TBS kelapa sawit terbaru Provinsi Jambi periode 26 Desember – 1 Januari 2026 :
Umur tanam 3 tahun Rp 2.662,16
Umur tanam 4 tahun Rp 2.840,23
Umur tanam 5 tahun Rp 2.971,09
Umur tanam 6 tahun Rp 3.095,35
Umur tanam 7 tahun Rp 3.173.48
Umur tanam 8 tahun Rp 3.240,77
Umur tanam 9 tahun Rp 3.304,71
Umur tanam 10-20 tahun Rp 3.406,67
Umur tanam 21-24 tahun Rp 3.304,21
Umur tanam 25 tahun Rp 3.152,67
Posisi Kelapa Sawit Indonesia
Sementara itu, mengutip elaeis.co kelapa sawit Indonesia kembali ditempatkan di posisi sulit. Dari isu deforestasi, krisis iklim, hingga banjir besar di Sumatera, sawit kerap disebut sebagai penyebab utama. Narasi itu berulang, bergema di forum internasional, laporan LSM global, hingga kebijakan perdagangan. Pelan tapi pasti, sawit diposisikan sebagai musuh lingkungan dunia.
“Sawit Indonesia hari ini bukan kalah karena salah, tapi kalah karena ceritanya kalah,” ujar ahli ekonomi digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Agus M. Maksum, S.Si.
Agus menjelaskan, secara ilmiah kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Our World in Data menunjukkan, sekitar 35–40 persen minyak nabati global dihasilkan hanya dari kurang dari 9 persen total lahan tanaman minyak dunia.
“Angka ini bukan slogan industri, tapi hasil perhitungan sains. Sayangnya, fakta ini jarang muncul dalam debat publik global,” katanya.
Ironinya, efisiensi sawit justru menjadi alasan utama mengapa komoditas ini diserang. Menurut Agus, sawit menjadi ancaman ekonomi bagi produsen minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed yang secara agronomis jauh lebih boros lahan. Di titik inilah isu lingkungan berubah fungsi, dari kepedulian ekologis menjadi alat proteksi ekonomi terselubung.







