Cerdas yang Kehilangan Cermat; Menyoal Juri yang Kontroversi

Oleh: Fajri Al Mughni*

Ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kalah dalam perlombaan. Bukan kekalahan angka. Bukan gugur di babak final. Bukan pula tepuk tangan yang berhenti lebih cepat dari harapan.

 

Yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang kalah bukan karena ia salah, melainkan karena kebenaran tak lagi diperlakukan dengan jujur. Dan malam itu, publik menyaksikan sesuatu yang lebih mirip tragedi kecil daripada sebuah perlombaan pendidikan.

Ironisnya, tragedi itu terjadi di panggung yang bernama Lomba Cerdas Cermat.

Sebuah nama yang terdengar mulia. Sebuah nama yang mestinya dijaga dengan akal sehat, kejujuran dan ketelitian. Tetapi malam itu, nama itu terasa seperti satire yang berdiri di atas dirinya sendiri.

 

Di tengah ruangan, satu peserta bernama Josepha Alexandra menjawab pertanyaan dengan suara yang terang. Tidak tergagap. Tidak berbisik. Tidak pula menggumam seperti orang yang berbicara kepada angin.8

Kalimat itu jelas. “Dewan Perwakilan Daerah.”

 

Jelas.

Sangat jelas.

 

Tetapi anehnya, ketidakjelasan tiba-tiba lahir bukan dari mulut peserta, melainkan dari telinga mereka yang memegang kuasa penilaian. Dewan Juri yang terhormat. “Tidak mendengar kata Dewan Perwakilan Daerah,” ujar seorang bapak dewan juri dengan nada penuh kepastian. Josepha dan tim diberi nilai MINUS 5.

 

Anehnya, ketika peserta lain menjawab dengan jawaban yang sama, juri memberi nilai SEPULUH. Josepha menolak, ia tegas menjawab telah mengatakan hal yang sama dengan peserta yang mendapat nilai SEPULUH.

 

Dan di titik itulah akal sehat publik mulai dipermainkan.

Jangan Lewatkan :  Polda Jambi Cek Lubang Bekas Tambang Batu Bara yang Tak Direklamasi

Sebab lucu sekali melihat seseorang begitu yakin pada sesuatu yang begitu keliru.

 

Semua mendengar.

Penonton mendengar.

Peserta lain mendengar.

Guru-guru mendengar.

MC PUN MENDENGAR.

Mungkin bahkan dinding ruangan ikut mendengar.

 

Tetapi ketika ego duduk lebih tinggi daripada kejujuran, pendengaran sering berubah menjadi alat kekuasaan: hanya mau mendengar apa yang ingin didengar. Betapa menyedihkan.

 

Lalu datanglah pembelaan kedua dari DEWAN JURI yang terhormat.

 

Seorang ibu berkacamata berkata: “Artikulasi harus jelas.” Kalimat itu terdengar akademis. Terdengar intelektual. Terdengar seperti standar profesionalitas. Namun sering kali, bahasa paling rapi justru dipakai untuk menyembunyikan ketidakadilan yang paling kasar.

Karena publik tahu, dan hati kecil siapa pun yang jujur tahu, artikulasi Josepha sangat jelas. Terlalu jelas bahkan untuk diperdebatkan.

Tetapi rupanya, dalam beberapa perlombaan, masalahnya bukan pada suara peserta.

Masalahnya ada pada kesediaan juri untuk mengakui bahwa mereka bisa salah.

Dan itulah penyakit paling tua dari kekuasaan:

merasa posisi membuat seseorang otomatis benar. Padahal tidak. Kursi juri tidak membuat seseorang lebih bijaksana. Ia hanya memberi kesempatan untuk menunjukkan apakah dirinya pantas dihormati atau tidak.

 

Malam itu, yang runtuh bukan kemampuan seorang peserta. Yang runtuh adalah marwah sebuah perlombaan.

 

Sebab lomba cerdas cermat seharusnya bukan sekadar mencari siapa paling cepat menjawab. Ia adalah panggung pendidikan moral: tentang sportivitas, tentang kejujuran intelektual, tentang keberanian mengakui kekeliruan.

 

Namun apa yang dilihat anak-anak malam itu?

Jangan Lewatkan :  Akmaluddin Anggota DPRD Provinsi Jambi Menangkan Gugatan Lawan PDIP

Mereka melihat orang dewasa yang lebih sibuk mempertahankan gengsi daripada mempertahankan kebenaran. Mereka melihat bahwa kadang-kadang, menjadi benar saja tidak cukup, jika yang menilai tidak mau jujur.

Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya.

Karena anak-anak belajar bukan hanya dari buku, melainkan dari perilaku orang dewasa di depan mereka. Ketika ketidakadilan dipertontonkan terang-terangan tanpa rasa malu, maka pendidikan sedang mengajarkan satu hal yang paling beracun: BAHWA KEKUASAAN LEBIH PENTING DARIPADA KEJUJURAN.

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah berbicara tentang hubungan antara pengetahuan dan kuasa. Bahwa sering kali yang dianggap “benar” bukanlah yang paling benar, melainkan yang diucapkan oleh mereka yang memiliki otoritas.

 

DAN MALAM ITU, TEORI ITU TERASA BEGITU HIDUP.

Kebenaran Josepha kalah bukan karena salah. Tetapi karena seseorang dengan kuasa berkata ia salah. Sederhana. Sesederhana itu wajah ketidakadilan bekerja.

 

Yang paling tragis sebenarnya bukan kesalahan mendengar itu sendiri. Manusia bisa keliru. Telinga bisa luput. Fokus bisa pecah. Tetapi yang menyedihkan adalah ketidakmampuan untuk berkata:

“Maaf, mungkin kami keliru.”

 

Kalimat sederhana itu membutuhkan sesuatu yang jarang dimiliki banyak orang dewasa: kerendahan hati.

Dan anehnya, semakin tinggi jabatan seseorang dalam sebuah forum, semakin mahal harga kerendahan hati itu. Padahal kebijaksanaan sejati bukan terletak pada seberapa jarang seseorang salah, melainkan pada seberapa berani ia mengakui kesalahannya.

 

Socrates pernah berkata: “Aku bijak karena aku tahu bahwa aku tidak tahu.”

 

Tetapi dunia hari ini dipenuhi orang-orang yang merasa paling tahu, bahkan ketika seluruh ruangan sebenarnya sedang menyaksikan kekeliruannya.

Jangan Lewatkan :  Lagi Kasus Dokter Cabul, Rekam Mahasiswi yang Sedang Mandi

 

Maka malam itu, Josepha mungkin kehilangan poin. Mungkin kehilangan kemenangan.

Mungkin kehilangan piala. Tetapi ada sesuatu yang tidak hilang darinya: MARTABAT.

 

Karena publik tahu siapa yang sebenarnya sedang berdiri di pihak kejujuran. Dan publik juga tahu siapa yang sedang sibuk menyelamatkan harga diri di balik meja penilaian.

 

Sungguh ironis.

Di negeri yang begitu gemar membuat lomba pendidikan, kita justru sering gagal mendidik nilai paling dasar dari pendidikan itu sendiri: KEADILAN.

 

Anak-anak diajarkan berpikir kritis, tetapi ketika mereka benar, orang dewasa justru defensif.

Anak-anak diajarkan berkata jujur, tetapi ketika kejujuran itu menyulitkan otoritas, ia dianggap gangguan.

Anak-anak diajarkan sportivitas, tetapi mereka menyaksikan sendiri bagaimana sportivitas mati pelan-pelan di tangan orang-orang yang mestinya menjadi teladan.

 

Dan barangkali, inilah kekalahan terbesar malam itu. Bukan kalah lomba.

Tetapi kalah moral. Sebab sebuah perlombaan akan selesai dalam hitungan jam.

Tetapi rasa kecewa karena diperlakukan tidak adil bisa tinggal sangat lama di hati seorang anak. Lebih lama daripada tepuk tangan. Lebih lama daripada pengumuman juara.

 

Bahkan mungkin lebih lama daripada ingatan tentang soal-soal yang ditanyakan malam itu.

Dan kita semua harus bertanya dengan jujur:

 

kalau lomba bernama Cerdas Cermat saja sudah kehilangan kecerdasan dan kecermatannya, LALU SEBENARNYA SEDANG APA PENDIDIKAN KITA HARI INI? Sedang SAKIT.

*Pendiri Kalam Literasi Indonesia

Tinggalkan Balasan