Oleh: Fajri Al Mughni
Ada satu penyakit sosial yang sering kambuh saat musim reuni dan buka bersama: sindrom volume hidup yang tiba-tiba membesar.
Dulu suaranya biasa saja, sekarang setiap kalimat seperti sedang pidato kampanye. Dulu ketawanya wajar, sekarang seperti ingin memastikan seluruh meja bahwa hidupnya sudah “naik kelas”.
Padahal, Wak, reuni itu bukan panggung orasi. Itu hanya pertemuan sederhana antara orang-orang yang pernah sama-sama miskin pengalaman, sama-sama salah potong rambut, sama-sama pernah dimarahi guru, dan sama-sama pernah makan mie instan tiga orang satu panci.
Jadi kalau nanti ketemu kawan lama, turunkan sedikit nada bicaramu. Rendahkan volumenya. Tidak perlu berbicara seperti sedang menjelaskan laporan tahunan perusahaan.
Karena di kepala mereka, engkau masih yang dulu: orang yang pernah pinjam uang dua ribu buat beli gorengan, lalu lupa mengembalikannya sampai sekarang.
Lucunya, dalam reuni sering ada orang yang tiba-tiba berubah menjadi versi paling mewah dari dirinya sendiri. Ceritanya sudah seperti katalog keberhasilan. Rumah di mana, mobil apa, proyek berapa. Padahal yang datang ke sana bukan investor, bukan bank, dan bukan pula panitia pemberi penghargaan.
Mereka hanya kawan lama.
Maka, Kanti, kalau ada undangan buka bersama, datanglah. Kita nostalgia, bukan lomba gengsi. Kita datang untuk mengingat masa ketika kebahagiaan hanya seharga es teh plastik dan cerita bodoh yang diulang-ulang.
Kalau ada kawan yang sekarang sukses, berbahagialah.
Jangan tiba-tiba menjaga jarak seolah-olah ia sudah pindah planet. Keberhasilan teman itu bukan ancaman, itu justru kabar baik: berarti dari lingkaran kecil kita ada yang berhasil menaklukkan dunia.
Dan kalau ada yang hidupnya masih biasa-biasa saja, jangan pula dipandang seperti catatan kaki kehidupan.
Kita semua sedang berjalan dengan kecepatan yang berbeda. Hidup ini bukan lomba lari, lebih mirip perjalanan panjang dengan sepatu yang kadang berbeda ukurannya.
Makanya, usul sederhana saja: patungan sepuluh ribu per orang. Nasi, lauk, sambal telur pun sudah cukup. Tidak perlu menu yang namanya sulit diucapkan. Tidak perlu foto makanan dari lima sudut kamera. satu sudut sajalah.
Karena sebenarnya yang membuat makanan itu enak bukan bumbunya.Tapi orang-orang yang duduk di sekelilingnya.
Teh es? Bikin sendiri juga bisa.
Lagipula, yang kita rayakan dalam pertemuan seperti itu bukan kemewahan hidup, melainkan satu hal yang sering dilupakan ketika orang mulai sibuk menjadi “besar”: bahwa dulu kita pernah kecil bersama-sama.
*Pendiri Kalam Literasi Indonesia









