Perihal Tersangka Sabu yang Raib dari Polda Jambi, Kabur Atau Izin?

Oleh: Fajri Al Mughni

Wak, tulisan ku ini harus dibaca pelan-pelan. Aku sarankan kau baca sambil ngudut, ada kopi, dan kalau bisa jangan dalam ruangan.

“Diam adalah emas,” begitu kata orang-orang bijak. Aku setuju, wak. Diam itu mahal. Diam itu elegan. Diam itu kadang menyelamatkan. Tapi aku mulai ragu ketika ada jenis diam yang lain: diam-diam.

Nah, ini yang bahaya.

Bayangkan begini, aku punya kawan, pendiam. Wajahnya teduh, bicaranya irit, kalau ketawa pun seperti izin dulu sama suasana. Tipe manusia yang kalau duduk di pojok, orang akan bilang, “ini orang dalam.”

Tapi suatu hari, mancisku hilang. Bukan sembarang mancis, kriket pula. Yang kalau dinyalakan bunyinya lebih meyakinkan daripada janji kepala daerah.

Aku mulai curiga. Bukan karena bukti, tapi karena dia diam. Terlalu diam. Diam yang tidak lagi seperti emas, ini sudah seperti brankas.

Jangan Lewatkan :  Kasus Bank Jambi, Kuras Rp 143 Miliar dari 6 Ribu Rekening

Lalu aku berpikir, apakah ini harus dibawa ke ranah hukum? Tapi aku teringat satu kabar yang lebih besar dari sekadar mancis hilang. Katanya, ada tersangka kasus sabu 58 kilogram, hilang juga. Di tempat yang seharusnya paling terjaga. Polda Jambi!

Nah, di situ aku mulai sadar: mungkin mancisku tidak sendirian dalam penderitaan ini.

Aku membayangkan kronologinya. Apa dia izin ke toilet, lalu tiba-tiba jadi karakter film laga? Atau mungkin petugasnya sedang sibuk menyusun berkas, lalu tersangka itu merasa, “ini momenku”? Dan kaburlah dia, dengan tangan terborgol, dari lantai dua, lewat jendela. Hebat ya. Seolah film laga.

Atau jangan-jangan, seperti yang sering kita dengar dengan nada maklum: khilaf. Siapa yang khilaf? TST!

Khilaf, wak. Kata yang begitu sakral untuk kesalahan yang terlalu besar untuk dijelaskan.

Jangan Lewatkan :  Tim SAR Cari 1 ABK Pompong yang Terbalik dihantam Ombak di Perairan Tengah Pangkal Duri

Aku tidak menuduh siapa-siapa. Tidak. Aku hanya mencoba memahami. Karena dalam ajaran agama juga disebut, manusia itu tempatnya lupa dan khilaf. Tapi kalau lupa itu sampai puluhan kilo, aku mulai khawatir, jangan-jangan ingatan kita memang selektif. Yang kecil diingat, yang besar dimaafkan. Yang kecil ditangkap dan diterungku, yang besar ah biarlah berlalu..

Kembali ke mancisku.

Aku jadi ragu untuk melapor. Kalau yang besar saja bisa “diam-diam” hilang, bagaimana dengan yang kecil seperti ini? Takutnya nanti aku malah disuruh ikhlas. Atau lebih parah, disuruh introspeksi: mungkin memang bukan rezekiku.

Tapi pikiranku terus berkelana. Jangan-jangan yang kabur itu punya ilmu kanuragan. Diamnya itu bukan sekadar sifat, itu strategi. Bisa jadi dia berubah jadi semut, menyelinap lewat celah tas, lalu keluar dengan membawa kriketku sebagai rampasan sunyi.

Atau mungkin dia ahli membuka benda tanpa suara, seperti maling profesional yang belajar dari film, tapi terlalu sopan untuk diakui.

Jangan Lewatkan :  Kabar Hengkangnya Mohamed Salah, Antara Janji Klub dan Perfoma yang Limbung

Ah, semakin kupikir, semakin absurd.

Lalu aku sampai pada satu kesimpulan sederhana: tidak semua diam itu emas. Ada diam yang menutupi, ada diam yang menyimpan, ada diam yang diam-diam mengambil.

Dan mungkin, di dunia yang penuh dengan “diam-diam” ini, yang paling berbahaya bukan mereka yang berisik, tapi mereka yang terlalu tenang saat sesuatu yang seharusnya ada, tiba-tiba tidak ada.

Jadi, wak, kalau kau tanya apa yang harus kulakukan?

Mungkin aku tidak akan ke polisi. Bukan karena tidak percaya, tapi karena aku sadar, ini bukan soal mancis. Ini soal memahami bahwa dalam hidup, kehilangan sering datang tanpa suara.

Dan pelakunya?Sering kali… justru yang paling diam.(*)

Fajri Al Mughni, alumnus Mesir dan pendiri Kalam Literasi  Indonesia.

Tinggalkan Balasan