Oleh: Fajri Al Mughni
Kawan, negeri ini memang tak pernah kehabisan panas. Matahari boleh terbit dari timur, tapi panas terbaru sering datang dari komentar, dan kali ini, sumbernya bukan kompor, tapi satu kalimat sederhana: bahwa Iran-Syiah adalah bagian dari Islam.
Dan tiba-tiba, sebagian orang seperti tersiram air mendidih, padahal yang disebut hanya fakta dalam peta besar peradaban, bukan undangan untuk pindah mazhab.
Aku sih memaklumi. Sungguh. Karena sejak awal, sebagian kawan kita wahabi ini memang alergi pada hal-hal yang berbau perbandingan. Ilmu kalam dianggap terlalu banyak tanya.
Filsafat dianggap terlalu banyak mikir. Diskusi lintas mazhab dianggap terlalu banyak risiko. Maka yang tersisa sering kali hanya satu: keyakinan yang disimpan rapat, tapi tidak pernah diuji di ruang yang luas.
Sementara di sisi lain, Tuan Guru Bajang atau TGB Muhammad Zainul Majdi, yang bicara ini, bukan belajar agama dari potongan ceramah 30 detik. Ia ditempa dari S1 sampai S3 di Al-Azhar, sebuah kawah candradimuka yang mengajarkan satu hal penting: memahami sebelum menilai. Di sana, perbedaan bukan ancaman, tapi bahan kajian. Mazhab bukan sekat, tapi spektrum. Kata Ustadz Adi Hidayat, “paham sampai di sini”?
Jadi ketika TGB mengatakan Iran-Syiah adalah Islam, itu bukan pernyataan emosional. Itu kesimpulan akademik yang bahkan terlalu dasar untuk diperdebatkan oleh mereka yang pernah membuka buku perbandingan mazhab dengan serius. Masalahnya, kawan, kita ini kadang lebih suka marah daripada membaca.
Padahal konteksnya jelas. TGB tidak sedang mengajak orang menjadi Syiah. Ia sedang bicara dalam lanskap geopolitik: tentang satu negara Islam yang berdiri sendirian menghadapi tekanan Amerika dan Israel.
Tentang Iran yang puluhan tahun diembargo, tapi tidak tumbang, justru tumbuh jadi negara yang mandiri. Kuat.
Di saat banyak yang sibuk menyesuaikan diri, Iran memilih menantang. Di saat ancaman datang, mereka tidak sibuk membuat klarifikasi panjang. Mereka cukup menjawab pendek: “Silakan datang, kami sudah lama menunggu.” Sederhana. Tegas. Tanpa drama.
Ini bukan soal siapa benar dalam aqidah. Itu ruang lain, dan TGB pun tidak pernah mencampuradukkannya. Ia tetap seorang Sunni dengan fondasi yang kokoh. Tapi ia juga seorang intelektual yang paham bahwa memahami bukan berarti menyetujui, dan mengakui bukan berarti mengikuti.
Sayangnya, tidak semua orang nyaman dengan kedalaman.
Maka muncullah reaksi-reaksi yang lebih mirip refleks daripada argumen. Mengomentari tanpa membaca. Menolak tanpa memahami. Menghakimi tanpa pernah benar-benar belajar. Seperti menilai buku dari sampulnya, lalu marah ketika isinya tidak sesuai dengan kehendaknya.
Membandingkan keilmuan TGB dengan sebagian pengkritiknya, jujur saja, seperti membandingkan samudra dengan ember. Bukan soal siapa lebih tinggi, tapi soal kedalaman yang berbeda.
Dan di titik ini, mungkin respon terbaik memang bukan debat panjang. Tapi cukup duduk santai di depan rumah, seduh kopi, dan menyaksikan semuanya dengan senyum tipis.
Karena kadang, kebenaran tidak perlu dibela dengan teriak-teriak.
Cukup dibiarkan berdiri, sementara yang tidak siap, akan sibuk sendiri dengan panasnya.
TGB itu ngopinya kuat wak. Sekali duduk bisa dua gelas.
Fajri Al Mughni, alumnus Mesir dan pendiri Kalam Literasi Indonesia









