Saat Dunia Ribut, Kita Santai. Hebat Atau Lupa?

 

Oleh: Fajri Al Mughni

Baik, wak…kali ini izinkan aku mengambil posisi yang jarang kupakai: memuji. Bukan karena aku tiba-tiba berubah haluan, tapi karena di negeri ini, memuji kadang terasa lebih berani daripada mengkritik.

Maka dengan segala kesadaran yang masih kupunya, izinkan aku berkata: aku harus memuji presiden Prabowo dan kanda Bahlil.

Iya, harus.

Karena di saat dunia ribut seperti pasar malam menjelang bubar, harga minyak naik, negara-negara sibuk menambal defisit, rakyat di sana mulai menghitung ulang isi tangki, Indonesia berdiri dengan wajah tenang. BBM masih disubsidi. Rakyat masih bisa isi bensin tanpa harus menjual separuh mimpi.

Negeri lain panik, kita kok santai?

Ini hebat, wak. Sungguh hebat. Sampai-sampai aku bingung, ini karena kita kuat… atau karena kita belum merasa?

Jangan Lewatkan :  Ini Pesan Bupati Hurmin Saat Serah Terima Jabatan Bupati Sarolangun

Di layar televisi, para analis sibuk membahas perang Iran vs AS-Israel. Grafik minyak dunia ditarik ke sana ke mari. Prediksi bertebaran seperti janji kampanye. Tapi anehnya, di warung kopi kita, obrolan tetap soal bola, soal tetangga, soal data janda di Muaro Jambi. Seolah ekonomi kita ini kebal, seperti punya vaksin khusus yang tidak dimiliki negara lain.

Atau mungkin kita memang bangsa yang tangguh yang bahkan saat badai datang, masih sempat bilang, “angin sepoi-sepoi ini.”

Maka lagi-lagi, aku ulangi: aku harus memuji presiden Prabowo dan kanda Bahlil.

Karena menjaga stabilitas di tengah dunia yang berisik bukan perkara mudah. Butuh keberanian, atau… keyakinan tingkat tinggi.

Tapi, wak, kau tahu aku ini orangnya suka curiga sedikit. Bukan curiga yang jahat, cuma sekadar memastikan bahwa tenang ini bukan karena kita belum dengar suara retaknya.

Jangan Lewatkan :  Mengenal Iqbal, Penyair Muslim Sekaligus Tokoh Kemerdekaan Pakistan

Aku jadi teringat satu sosok: “Bung Towel.” Dia ini unik. Kalau Timnas menang, dialah yang paling keras mengkritik. Seolah kemenangan itu kesalahan fatal. Tapi kalau Timnas kalah? Dia diam. Sunyi. Menghilang seperti sinyal di Pulau Temiang.

Lucunya, negeri ini kadang mirip begitu. Kalau ada kabar baik, kita sibuk mencari celah.

Kalau ada kabar buruk, kita malah belajar menerima. Hari ini, aku memilih memuji.

Tapi bukan pujian yang kosong. Ini pujian yang sambil menoleh ke kiri-kanan. Pujian yang tetap bertanya dalam hati: ini benar kuat, atau cuma terlihat kuat?

Karena sejarah mengajarkan kita satu hal sederhana: yang paling berbahaya bukan badai yang datang tiba-tiba, tapi ketenangan yang membuat kita lupa bersiap.

Jangan Lewatkan :  Pemerasan Berujung Pemecatan, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Banding

 

Kalau memang Indonesia hari ini stabil, semoga itu hasil kerja keras, bukan sekadar ilusi yang ditata rapi.

Kalau BBM tetap disubsidi, semoga itu karena perhitungan matang, bukan karena kita menunda kenyataan.

 

Dan kalau dunia sedang ribut sementara kita tenang…semoga kita memang kapal besar yang kokoh, bukan perahu kecil yang kebetulan belum dihantam ombak.

Apa aku juga harus memuji Pak Purbaya?

Tapi izinkan aku menyelipkan satu doa kecil di balik pujian ini: semoga yang kita rasakan hari ini benar-benar kekuatan, bukan sekadar jeda… sebelum kenyataan mulai berbicara lebih keras.

 

Fajri Al Mughni, alumnus Mesir dan pendiri Kalam Literasi Indonesia 

Tinggalkan Balasan