Al Haris, Adirozal, Masnah Busro: Tiga Selera di Satu Warung Kopi

Aku dapat kabar, sejak PAN Jambi ditinggal Pak Bakri, satu kursi DPR RI yang beliau tinggalkan itu sampai kini masih saja kosong. Sudah dua bulan Pak Bakri berpulang. Dua bulan pula orang Jambi kehilangan seorang wakilnya di Senayan.

Tampaknya Al Haris agak pening memikirkan siapa gerangan yang akan didudukkan di kursi itu. Sebab, kalau hendak mengikut hitungan Pileg 2024 dan aturan yang sudah dibuat orang di atas sana, kursi legislator Fraksi PAN itu mestilah jatuh kepada Adirozal. Suaranya nomor dua terbanyak setelah Bakri, lebih kurang 26 ribu suara.

Tapi begitulah politik, Wak.

Kadang-kadang yang berat bukan mencari orang yang punya suara, melainkan mencari orang yang punya selera kopi yang sama.

Jangan Lewatkan :  Profil Ulfiyah, Wakil Bupati Situbondo yang 7 Tahun Berprofesi Sebagai Guru

Aku tengok-tengok, Al Haris dengan Adirozal ini macam punya selera kopi yang berlainan. Warung tempat ngopi pun lain. Yang satu mungkin suka kopi Jangkat, yang satu lagi suka kopi Kerinci. Sama-sama kopi berkualitas di Jambi.

Kato orang Jambi, kalau sudah lain selera kopi, biasanya lain pula cara memandang pagi. Kalau cara memandang pagi sudah lain, bisa jadi lain pula visi dan misi.

Maka Adirozal pun dipandang-pandang, ditimbang-timbang. Ada yang menganggap beliau bisa menjadi semacam “benalu” bagi PAN di bawah kepemimpinan Al Haris. Benalu, Wak, memang kecil batangnya, tapi kalau dibiarkan, lama-lama pohon tempat menumpang bisa dibuatnya payah.

Jangan Lewatkan :  Profil Muslimin Tanja Dulu Wartawan Kini Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur

Sementara itu, Masnah Busro agaknya cuma mengintai dari tepian.
Diam-diam menyiapkan umpan, sambil mengukur tempat hendak memasang tajur.
Di rawa, pasang sepuluh.
Di sungai, pasang enam belas.
Di kolam, pasang tiga saja.

Tapi jangan salah, umpan itu bukan umpan sembarangan. Mahal harganya, kanti. Sebab ikan yang hendak dipancing bukan ikan betok yang cukup dengan umpan jangkrik. Ini ikan besar, ikan politik. Salah pasang tajur, bukan ikan yang datang, malah perahu sendiri yang hanyut.

Menariknya, Masnah Busro punya selera kopi yang lebih dekat dengan Al Haris. Sama-sama suka manis.

Tambah kreamer dikit, susu kental manis sedikit. Pokoknya kalau diaduk, jangan sampai pahitnya terlalu terasa.

Jangan Lewatkan :  Pesan SBY ke Kader Demokrat, Utamakan Negara Baru Partai

Cuma satu yang tak dipakai: kopi Kerinci.
Kopi Kerinci, setahuku, lebih dekat dengan selera Adirozal.

Jadi kalau hendak dihitung-hitung dari warung kopi sampai ke tepian sungai, dari rasa pahit sampai rasa manis, dari tajur sampai umpan, nampaknya perkara ini bukan lagi sekadar soal siapa yang punya suara terbanyak.

Sebab dalam politik, suara rakyat memang dihitung. Tapi selera kopi kadang-kadang ikut menentukan ke mana arah kemudi hendak membawa perahu.

Maka, untuk sementara ini, posisinya sederhana saja: dua lawan satu.
Tinggal menunggu siapa yang lebih dulu menyeduh kopi, dan siapa pula yang lebih dulu kena tajur. (
Fajri Al Mughni, pendiri Kalam Literasi Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Tag Terkait